Gemilang Di Pelupuk Mata

Riuh-rendah ramainya bocah-bocah menghiasi hari setiap pagi berjalan menuju ke sekolah. Ada yang berjalan bergerombol bersama teman-temannya, ada yang mengayuh sepeda sendiri atau berboncengan, dan ada juga yang diantar oleh para orang tua. Semua riang tersenyum siap menerima pelajaran yang diberi oleh para bapak/ibu guru di sekolah. Syifa yang setiap pagi rutin menonton kanak-kanak sebayanya bermuka cerah berangkat ke sekolah, ia hanya mampu menelan ludah dan menggigit bibir ingin juga merasakan memakai seragam merah putih, memakai sepatu, menyangklong tas seperti teman sebayanya. Usianya yang sudah delapan tahun, pantasnya Syifa sudah duduk di bangku kelas dua SD. Namun ia tak mendapat kesempatan itu. Bahkan Pendidikan Usia Dini dan Taman Kanak-kanak pun Syifa tak merasakannya. Hal itu disebabkan karena ayah ibunya berada di Malaysia menjadi TKI karena terjerat hutang yang mencekik tak mampu membayar hingga akhirnya meninggalkan Syifa yang masih kecil pada neneknya. Nenek Syifa pun yang hanya bekerja sebagai tukang cuci pakaian dari rumah ke rumah pun tak sanggup membiayai sekolah cucunya walau pemerintah mengeluarkan kebijakan wajib sekolah sembilan tahun dengan bebas SPP dan buku gratis, hal itu tetap tak mengatasi, sebab kenyataan yang terjadi masih ada pungutan biaya dengan alasan iyuran untuk pembangunan gedung sekolah dan sebagainya.

Ditambah lagi dengan kondisi fisik Syifa yang tak sempurna. Kaki kiri lebih kecil daripada kaki kanan, yang lemah dan harus dibantu tongkat untuk menopang tubuhnya. Karena disebabkan sewaktu usia empat tahun ia pernah sakit panas tinggi yang mengakibatkan polio.

****

Meski kerap kali mendapat ejekan dari teman bermain sebayanya, Syifa tak menyimpan dendam di hatinya. Ia hanya tersenyum atau pergi menjauh dari anak-anak yang tak sudi berkawan dengannya. Seperti pagi itu, Syifa diam-diam mengikuti serombongan kanak-kanak yang berjalan kaki hendak pergi sekolah. Walaupun dirinya berbeda, kanak-kanak lainnya berseragam rapi dan bersepatu, dan ia yang menggunakan pakaian bebas yang sudah lusu juga sandal jepit, Syifa tak menghiraukan olokan mereka yang terganggu dengan hadirnya Syifa diantara mereka.

“Eh, Syifa, kamu mau ke mana?”, Agnes yang mengetahui bahwa Syifa berada diantaranya, lalu menegur sinis sambil melirik ke pakaian dan sandal yangdigunakan Syifa. Serentak teman-temannyapun ikut bertanya dan berkomentar, “

Eh iya tu! Kami ini mau pergi sekolah, bukan ingin bermain!”, “Pulang aja Syifa, nanti kalau kami sudah pulang sekolah kita bisa main lagi!”, Rasta dan Eca ikut berkomentar.

“Eh, em... Aku nggak mau bermain, aku ikut kalian karena juga ingin bersekolah.”,

“Ha ha ha...! Apa katamu, bersekolah! Mana bisa Syifa, coba lihat baju dan kakimu! Tidak memakai seragam dan sepatu, kamu juga tidak membawa tas dan buku. Terus kamu gimana mau sekolah? Sudahla, mending kamu pulang aja daripada nenekmu bingung mencari!”, Agnes yang tak sabar itu berkata mengusir Syifa agar mau pulang.

“Ah, nggak! Biarkan aku ikut dengan kalian. Aku tidak akan mengganggu. Aku akan menanti kalian di luar kelas.”, Syifa berkeras ingin ikut tak mau pulang. “Terserah saja dah! Jangan salahkan kami kalau nanti kamu dimarahi dan sampai diusir sama guru-guru.”,

“Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti kok.” Berangkatlah Syifa terus mengikuti teman-temannya pergi ke sekolah.

****

Hari pertama Syifa menginjakkan kakinya di sekolah yang ramai penuh kanak-kanak, hatinya sangat senang karena di sana ia menemukan dunianya yang selama ini belum pernah dirasakannya. Syifa tak berani masuk ke dalam kelas, ia hanya mengintip dari jendela atau pintu ketika terbuka untuk melihat ruang kelas. Banyak anak yang mencemooh dirinya karena dianggap jembel yang cacat sedang kesasar. Namun ada juga yang peduli akan kehadiran dirinya.seperti Khaikal siswa kelas tiga SD tersebut, ia menyapa Syifa dengan ramah dan mengawaninya. Saat jam istirahat tiba, bel berdering dan seluruh anak berhamburan keluar kelas. Ada yang bermain, ada yang jajan di kantin, dan ada juga yang membaca buku baik di perpustakaan maupun di luar kelas. Syifa ketika melihat Agnes Eca dan Rasta yang duduk di bangku bawah pohon bersama teman-temannya, Syifa menghampiri mereka dan ikut melihat gambar buku yang dipegang mereka. Lantas ia tertarik dan bertanya pada Agnes yang sejak tadi mengacuhkannya.

“Itu buku apa Nes? Kok gambarnya bagus. Boleh nggak aku pinjam? Cuma ingin lihat.”,

“Ah kamu ini Fa, aku belum selesai baca. Emangnya kamu bisa baca?”, Agnes menggeser duduknya karena merasa terganggu oleh Syifa yang ingin meminjam bukunya.

“Sudahla Nes, kasi pinjam aja! Lagian dia hanya ingin lihat.”, Eca menyuruh Agnes untuk meminjami buku Syifa karena Eca sendiri tidak membawa buku bacaan apapun. Agnes yang mendengar perintah Eca hanya merengut tak menjawab.

“Ini, kamu bisa pinjam bukuku. Tak kalah bagus lho, dengan buku yang dipegang Agnes.”, Khaikal yang kasihan melihat Syifa tidak dihiraukan sama teman-temannya, lalu menawarkan buku yang dibawanya dari perpus. Syifa yang tertarik dengan buku-buku yang dipegang sama kanak-kanak di sana, ia langsung menerima buku yang dipinjami oleh Khaikal dengan senang.

“Buku apa ini? Wah, gambarnya bagus sekali!”,

“Ini buku (cergam) cerita gambar. Dan itu gambar dino saurus.”, Khaikal menerangkan pada Syifa yang sedang meneliti bukunya sambil membolak-balik.
“Pe, tu, ala, ngan, di, no, sa, u, rus.”, Syifa membaca judul cerita dari gambar tersebut. Agnes Khaikal Rasta Eca dan teman-temannya yang mendengar Syifa membaca dengan terbata-bata, lantas melihat padanya.
“Eh, ternyata dia bisa baca, meski gayanya seperti orang menghitung biji jagung!, “Ha ha ha ha ha...!”, Sinta berkata dan menudingkan telunjuknya pada Syifa yang berkomat-kamit mengeja tulisan.
Serenpak bocah-bocah di situ tertawa menganggap Syifa seperti lelucon yang lucu. Seketika Syifa menghentikan bacaannya, hanya menatap bengong pada anak yang berkumpul mentertawakannya.
Memang tidaklah aneh kalau Syifa bisa membaca walau tak pernah bersekolah, karena ia di rumah belajar membaca menulis dan berhitung pada Kak Eva anak majikan neneknya.
“Kalau kamu suka baca buku cerita, besok aku bawakan buku dari rumah Syifa. Aku punya banyak koleksi majalah dan buku cerita anak yang menarik. Dan buku ini tidak bisa aku pinjamkan padamu untuk dibawa pulang, karena ini milik sekolah. Kamu besok datang ke sini lagi bukan?”, Khaikal yang merasa prihatin terhadap Syifa, ia berjanji akan membawakan buku koleksinya untuk Syifa bawa pulang sebagai bahan bacaan di rumah. Syifa lalu mengembalikan buku cergam tadi pada Khaikal dengan mata berbinar-binar bahagia seraya mengangguk-angguk bilang,
“Terima kasih Kak Khaikal. Aku besok akan ke sini lagi untuk meminjam bukumu.”,
“Oh, tidak usa kamu pinjam. Aku akan berikan padamu beberapa. Karena aku setiap bulan mendapat kiriman majalah berlangganan, dan ayahku suka membelikanku buku pula.”
Bel berdering tanda siswa harus masuk kembali untuk menerima pelajaran lainnya. Syifa yang kini tinggal sendiri di luar, ia berjingkat berjalan mendekati kelas Agnes Eca dan Rasta teman bermainnya yang juga rumahnya masih bertetangga. Kembali Syifa mengintip saat guru menerangkan dan memberi tugas atau pertanyaan pada para siswa dari jendela atau celah pintu yang tak tertutup rapat. Begitulah kini kegiatan Syifa sehari-hari setelah pada hari itu memberanikan diri ikut temannya bersekolah walaupun dirinya hanya di luar saja tak masuk ke dalam kelas sseperti jembel cilik. Dasar Syifa yang memang berotak cerdas, meski setiap harinya ia hanya memperhatikan guru saat mengajar dan menerangkan melalui mengintip dari luar kelas, namun ia dapat menyerap apa yang disampaikan oleh guru dalam kelas tersebut. Ia merekam dan menyimpan pengetahuan pelajaran dalam memori otaknya secara otomatis tanpa adanya perlengkapan mencatat seperti buku dan pensil. Terkadang ia juga gemas saat ada guru mengajukan pertanyaan lisan pada seluruh siswa di dalam kelas, akan tetapi mereka tak satupun berhasil menjawab dengan benar. Sedangkan Syifa yang mengintip dari luar ia tahu jawabannya, dan yakin jawaban itu benar karena soal yang ditanyakan guru sudah selesai dijelaskan sebelumnya.
****
Dua minggu lamanya Syifa saban hari pergi ke sekolah ikut teman-temannya. Di sana tak ada satupun guru yang menghiraukan dirinya. Kalaupun ada salah seorang guru yang pernah menegur, itupun bukan untuk memberi kesempatan pada Syifa agar diperbolehkan masuk kelas dan mengikuti kegiatan belajar, akan tetapi menyuruh Syifa untuk pulang dan menyarankan agar bilang pada orang tuanya biar segera didaftarkan bersekolah. Syifa yang tahu kondisi orang tua dan keluarganya, ia tak menjawab juga tak menceritakan perihal yang membuatnya tidak bisa sekolah. Ia hanya terdiam berkeras tak mau pulang terus mengintip di luar kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Bu Yuni wali kelas dua dasar itu yang juga merangkap mengajar matematika, usai menerangkan dan memberi contoh lalu mengajukan pertanyaan lisan pada seluruh anak di dalam kelas tersebut.
“Lima kali lima bagi 5 sama dengan berapa? Ayo semua ikut menghitung, siapa yang bisa jawab cepat dan tepat boleh istirahat terlebih dulu!”, Wajah seluruh anak di dalam kelas nampak serius memikirkan jawaban yang tepat dan agar cepat mengawali istirahat yang menunjukkan bahwa ialah yang paling pandai.
“Dua puluh lima!”, Anak laki-laki yang duduk di bangku belakang mengacungkan tangan dan menjawab. Bu Yuni menggeleng kepala lalu bertanya pada anak yang lain lagi.
“Kurang tepat Doni. Ayo yang lain menjawab!”,
“Sepuluh! Seratus dua puluh lima! Lima belas!”, Ramailah dalam kelas itu bergantian semua anak menjawab. Namun bu Yuni tetap menggeleng kepala. Semua anak belum ada yang berhasil menjawab dengan benar. Syifa yang menyimak dari celah jendela di luar kelas, ia gemas tak sabar melihat seluruh anak dalam kelas tersebut tidak ada yang dapat menjawab dengan benar. Akhirnya dari luar Syifa nyeletuk menjawab,
“Lima!”, Kelas yang kebetulan tengah hening karena semua siswa diminta oleh Bu Yuni untuk berfikir ulang, terpecahkan begitu mendengar suara Syifa yang menjawab nyaring dari luar. Seluruh pasang mata di kelas itu menengok pada arah suara yang terdengar menjawab. Bu Yuni datang menghampiri Syifa yang berdiri di ambang pintu.
“Siapa namamu?”,
“Arsyifa Nirmala Bu.”,
“Bagaimana kamu bisa menjawab dengan benar? Coba jelaskan Arsyifa, ibu ingin tahu!”, Bu Yuni menggandeng tangan Syifa mengajaknya masuk ke kelas dan mulai bertanya-tanya.
“Semula saya setiap hari selalu mengintip dari luar, dan diam-diam saya mengikuti pelajaran yang diterangkan oleh guru yang sedang mengajar bu. Tapi selama ini saya tidak pernah mengganggu bu, kebetulan barusan soal yang ibu berikan saya tahu jawabannya, jadi saya nggak sengaja menjawab.”, Syifa yang ditanya di hadapan siswa-siswi kelas dua itu, ia menerangkan pada Bu Yuni dengan kepala merunduk. Bu Yuni yang mendengar keterangan itu, ia tersenyum girang dan mengangguk-angguk kagum pada Syifa.
“Nah, tirulah anak-anak dari ketekunan Arsyifa yang hanya mendapat pelajaran dari mengintip namun dia ini sangat memperhatikan ilmu pelajaran yang diterangkan! Seharusnya kalian semua bersyukur dan lebih tekun lagi belajar, karena kalian telah beruntung sudah mendapat kesempatan sekolah dan belajar dengan tenang! Dan apa yang diucapkan Arsyifa dari luar itu benar adanya, karena jawaban dari lima kali lima bagi lima adalah lima. Sekarang kalian semua boleh istirahat! Dan kamu Arsyifa, di sini dulu! Ibu ingin berbincang terlebih dulu denganmu.” Setelah Bu Yuni berhadapan empat mata dengan Syifa di kelas, karena seluruh siswa sudah istirahat, lalu mereka berbincang banyak hal. Setelah itu Bu Yuni mengajak Syifa menghadap kepala sekolah dan memintakan ijin agar Syifa dapat bersekolah dengan gratis. Syifa juga mendapat seragam, tas, buku, dan sepatu yang diberi oleh Bu Yuni.
****
Seperti hari yang terselimuti awan tebal, tiba-tiba matahari menerobos diantara celah-celah yang tipis memberi penerangan bagi alam yang mendung kelabu tergantikan kilauan cahaya yang perlahan akan tetapi pasti sinarnya. Kebahagiaan yang tak dapat terlukis dengan kata-kata itu hanya bisa dirasa dan tampak oleh gemilangnya sinar mata yang sebelumnya redup kehilangan cahayanya, kini tiba-tiba berbinar memancarkan api semangat yang berkobar dari sepasang mata indah Syifa itu. Ia pulang ke rumah dengan hati dipenuhi bahagia dan menceritakan pada neneknya yang baru saja pulang dari mencuci pakaian di rumah majikannya. Neneknyapun berseru girang karena cucunya akhirnya bisa sekolah juga layaknya bocah sebayanya. Tak henti-hentinya sang nenek memberi nasihat pada cucunya agar rajin belajar, patuh pada guru dan tidak nakal serta agar berhati-hati membawa diri supaya teman-temannya bisa menerimanya dengan kondisi yang kurang sempurna itu.
Melihat usianya yang sudah delapan tahun, sewajarnya Syifa telah duduk di bangku kelas dua dasar. Akan tetapi Syifa belum pernah sekolah, meski demikian, ia sudah bisa membaca menulis walau masih terbata, keputusannya Syifa diikutkan di kelas satu dasar. Hari-hari dilaluinya dengan riang dan semangat. Tak ada kesulitan dalam menyerap pelajaran, Syifa dapat mengikutinya dengan hasil nilai yang membanggakan. Bahkan ia dapat (akselerasi) naik ke kelas dua menyusul teman seumurannya pada saat tengah semester. Semua itu tidak didapatinya dengan mudah, Syifa harus belajar dengan keras agar dapat menyusul dan memperoleh hasil yang memuaskan. Bukan hanya itu, Syifa juga sering mendapat perlakuan temannya yang mendiskriminasi dirinya. Apalagi semenjak dia akselerasi ke kelas dua dari kelas satu. Agnes dan Sinta yang tidak suka bergaul dengan Syifa, suatu waktu saat istirahat menghampiri Syifa yang sedang asyik membaca buku.
“Rajin amat kamu Syifa! Yang lain gemar baca buku cerita atau bermain, eh kamu malah suka baca buku pelajaran!”,
“Iya tu Sin, gak ada bosannya belajar. Mungkin itu caranya dia agar semua guru sayang dan kagum sama dia.”, Sinta dan Agnes mengejek. Syifa mengangkat kepala dan menutup bukunya.
“Kalian bicara apaan sih... Aku juga ingin bermain bersama kalian, tapi khawatir aku mengganggu.”,
“Iyalah, emangnya siapa sudi bermain sama anak sok yang suka caper sama guru! Lagian kamu bermainnya terbatas! Gak bisa lari, main petak umpet, udala yang jelas kamu gak bisa main kayak kami!”, Setelah berkata demikian Agnes lalu menyingkir dari Syifa yang diikuti Sinta. Syifa yang sadar akan kekurangan pada dirinya, ia hanya mampu menelan ludah. Saat Syifa larut dalam lamunan dirinya, ia dikagetkan dengan tepukan tangan di bahunya.
“Kamu nggak usah hiraukan mereka yang suka mencaci. Biarkan saja, asal kamu tetap semangat dan buktikan pada mereka yang sering menghinamu bahwa kamu itu bisa dan jauh lebih berarti dari mereka.”, Khaikal kakak kelasnya yang sekaligus menjadi sahabatnya tak henti-hentinya memberi motifasi dan dukungan pada Syifa.
“Terimakasih Kak Khaikal. Kamu baik banget sama aku, dan nggak pernah menghina karena kecacatanku.”,
“Sudahla Syifa, aku menilai teman bukan dari fisiknya, tapi dari kepribadiannya. Dan aku perhatikan selama ini kamu nggak pernah usil, juga selalu memaafkan mereka yang sering menghinamu. Oh ya Syifa, ngomong-ngomong kapan kamu lomba melukisnya?”,
“Besok lusa Kak Khaikal. Mohon doanya ya, agar aku bisa memberikan yang terbaik, dan tidak mengecewakan para guru.”,
“Pasti! Pasti aku mendoakan yang terbaik untukmu! Optimis Syifa, aku yakin kamu bisa!”, “Insya Allah Kak Khaikal, aku akan berusaha semampuku.” Mereka bercakap-cakap hingga bel berdering dan kembali ke kelas masing-masing.
****
Hari perlombaan di kabupaten yang ditentukan pun telah tiba. Seluruh siswa SD dari kelas satu sampai kelas tiga sekabupaten berkumpul mewakili sekolah masing-masing. Tak ketinggalan juga Syifa yang ada di tengah-tengah mereka mewakili siswa di sekolahnya untuk cabang lomba melukis. Agnes yang juga hadir mewakili untuk cabang lomba pidato, dan Tara siswi kelas tiga yang juga teman sekelas Khaikal mewakili cabang lomba esai. Setelah acara pembukaan, masing-masing berkumpul di tempat yang telah di tentukan. Lomba pidato berada di gedung pustaka kabupaten, lomba esai berada di samping gedung lomba pidato, dan lomba melukis yang ditempatkan di taman alun-alun kota. Agnes dalam pidatonya yang mengusung TEMA PENTINGNYA PENDIDIKAN, ia membawakan dengan lancar dan baik. Juga Tara dalam lomba esainya ia mengambil TEMA INDONESIA MAJU, menyusun kata perkata, kalimat perkalimat, dan paragraf perparagraf dengan rapi dan baik. Dan Syifa yang lokasi lombanya terpisah, ia mengusung TEMA LESTARI ALAM -KU. Lukisan yang hidup, original, dinamis, variatif, dengan melukiskan hutan hijau yang lebat dan subur akan tetapi bagian tengahnya sudah kering dan gundul. Nampak api yang berkobar menjilat-jilat dan asap membubung tinggi di angkasa hingga masuk ke daerah perkotaan pemukiman warga membuat kabut gelap dan melumpuhkan aktifitas warga. Dan nampak juga lukisan sungai membentang panjang airnya mengalir deras dan tenang, di tepi-tepi sungai tanahnya yang kosong ditumbuhi rerumputan liar, ada tiga bocah laki-laki yang sedang menanam bibit pohon pinus di lahan tepi sungai yang kosong itu. Dilihat dari sisi manapun, lukisan itu kesemuanya terlihat indah anggun dan alami. Seratus dua puluh menit waktu yang diberi oleh juri untuk lomba melukis akhirnya usai. Pidato dan esaipun juga selesai, tinggal menanti hasil pengumuman siapa yang berhak menjadi pemenang lomba.
Acara penutupan dan sekaligus pengumuman pemenang begitu mendebarkan.satu persatu cabang lomba diumumkan dari juara harapan tiga sampai mengerucut juara satu dengan dipanggil nomor urut peserta yang menang. Dalam hal lomba pidato, Agnes tidak lolos masuk ke enam besar. Dan Tara yang mengikuti lomba esai berhasil memboyong piala penghargaan sebagai juara harapan tiga. Sedangkan Syifa yang mengikuti lomba melukis, ia menanti dengan hati gelisah karena nomornya tak kunjung dipanggil jua. Saat harapan sudah menipis untuk memperoleh kemenangan, Syifa menyerahkan semuanya pada Allah. Syifa tersentak sadar bahwasanya dalam suatu perlombaan kalah menang hal yang biasa terjadi. Tidak akan mungkin kesemuanya terpilih menjadi pemenang dan juara, pasti ada yang harus rela menyerahkan piala terhadap orang lain. Yang terpenting bukanlah juara atau pun piala, melainkan pengalaman yang nilainya sangat mahal harganya. Karena pengalaman merupakan guru terbijak bagi kita untuk melangsungkan hidup yang akan datang. Bersyukurlah orang-orang yang sepanjang hidupnya dipenuhi pengalaman yang beraneka ragam warna dan kisah menarik meski di dalamnya seringkali terdapat pengalaman pahit pedih yang terasa seperti jamu dan jalan terjal berduri namun kesemuanya itu mendidik kita menjadikan insan dewasa yang tangguh dan kuat.
Ketika pengumuman tiba pada juara dua, detik-detik menegangkan untuk mengetahui siapa yang memperoleh juara satu, pembawa acara membacakan nomor peserta yang beruntung tersebut.
“Sebagai juara satu dari lomba melukis, akan saya bacakan berikut ini. Peserta dengan nomor urut dada sembilan bernama Arsyifa Nirmala dari Sekolah Dasar Negeri Nogo Sari! Kepada adik-adik yang mendapat juara dari harapan tiga sampai juara satu dari masing-masing lomba, kami harap naik ke podium untuk menerima piala yang akan diserahkan langsung oleh ketua panitia!”, Pecah sorak-sorai dan tepuk tangan membanjir dari seluruh yang hadir di situ. Syifa yang didampingi gurunya berjalan terpincang-pincang naik ke podium dengan tongkatnya yang tak pernah lepas dari dirinya.
Wajah yang tadinya cemas dan lesu, kini berbinar cerah penuh syukur. Syifa menerima piala dengan bibir menyungging senyum ramah dalam tiap tatapan matanya yang jeli itu. Tidak hanya sampai di situ saja, hasil lukisan Syifa dibeli oleh seniman pelukis terkenal di daerah dengan harga yang lumayan untuk hasil karya sekelas amatiran dan buah imajinasi dari bocah seumurannya namun sudah sangat menakjupkan hingga membawa penikmatnya seperti menyaksikan sesuatu hal yang nyata dan terseret masuk ke dalam cerita lukisan tersebut. Uang hadiah dari lomba dan hasil penjualan karya lukisnya pada saat lomba itu semuanya digunakan untuk kepentingan sekolahnya. Jadi orang tua Syifa tidak perlu bingung untuk membayar iyuran sekolah atau membeli perlengkapan sekolah Syifa karena telah dibiayai dari uang tersebut dan dibantu dengan kebijakan sekolah yang tidak terlalu memaksakan agar orang tua Syifa membayar segala keperluannya.
Syifa, Tara, dan Agnes kembali ke sekolah dengan membawa cerita pengalamannya masing-masing. Kini terbukalah mata teman-teman Syifa yang selama ini seringkali mereka caci-maki karena kecacatan tubuhnya. Dan ternyata ialah orangnya sekarang yang mengukir prestasi memberi keharuman bagi nama sekolah. Di balik kekurangan dalam dirinya, terdapat suatu kelebihan yang bermakna bak permata yang tertutup debu. Syifa menyongsong hari demi hari dengan lebih pasti, merajut gemilangnya hari mendatang dengan cahaya kemilau, juga asa yang tergenggam jadi satu tekad baja dalam dadanya. Ditambah teman-teman di sekitarnya sudah mulai bisa menerimanya sebagai kawan yang hadir di tengah-tengah mereka tanpa mempersoalkan kekurangan pada fisiknya. Bahkan kini seringkali teman-temannya seperti Agnes, Eca, Sinta, dan Rasta minta bantuannya untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan saat di rumah agar Syifa menjelaskan lagi dari apa yang mereka belum paham sepenuhnya. Syifapun tak merasa keberatan melakukan semua itu, justru ia amat senang dapat membantu temannya. Kini Syifa menjalani fase kehidupannya dengan tenang dan bahagia, karena dapat mengenyam pendidikan serta menikmati masa kanak-kanaknya layaknya bocah sepantaran dengannya. Bintang gemintang yang gemilang jauh dari jangkauan tinggi terbang di angkasa, kini menari di pelupuk mata dengan pesona cantiknya yang tak susah lagi diraih ke dalam pangkuan asanya.

Vika Wulandari Bondowoso, 2 Januari 2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Puri Berhantu Part 1

Misteri Golok Emas Bertuah Part 3