Misteri Puri Berhantu Part 1
Misteri Puri Berhantu
Ana terlihat ketakutan di pagi harinya. Keringat dingin masih bercucuran di sekucur tubuhnya. Beruntung Ayam jantan berkokok memecah tragedi semalam. Dengan tangan yang masih bergemetar Ana segera menyibak Tirai yang menutup jendela kamarnya yang cukup lebar. Udara pagi segera masuk disertai hangatnya Mentari yang mulai menerangi seluruh ruangan.
'Semoga surat yang kukirimkan kepada mereka bisa sampai dan aku berharap mereka mau datang kesini menolongku' Ungkap Ana dalam hati.
***
Perahu yang dinaiki oleh Tiga orang itu akhirnya berhasil merapat setelah diombang ambingkan oleh ombak - ombak lautan yang mulai mengganas.
'Alhamdulillah kita nyampe ni Son' Sahut Adit bernafas lega setelah menempuh perjalanan air sekitar dua jam lamanya.
‘Iya, beruntung saja perahu yang kita naiki memang kuat dan Pak Singgih memang hebat bisa mengantarkan kita dengan selamat. Terimakasih ya Pak Singgih!’ Sahut Sony, dan Orang Tua bercaping itu hanya tersenyum menangguk.
‘Ayo Son, Ana pasti sudah menunggu kita dari kemarin !’ Sahut Adit bersemangat. Iya Dit, tapi bisa – bisanya si kamu kok kenal sama Si Ana ini?’ Sahut Sony sambil mengangkat Ransel Gunungnya yang terlihat berat.
‘Iya Son, semenjak cerita keberhasilan kita dulu membereskan si Raja Iblis di Desa Bapakku itu tersebar di dunia maya, ternyata banyak respon positif loh. Banyak sekali e-mail yang masuk dan meminta bantuan kita.’ Sahut Adit penuh semangat.
‘Ah seharusnya cerita itu tidak perlu tersebar Dit, kan jadi seolah – olah kita yang pamer dan narsis!’
‘Ya gak gitu juga Son. Ya yang namanya media, cerita Desa yang hilang dan Golok Emas Bertuah itu menjadi sangat terkenal sampai para wartawan saja pada bolak – balik kesitu. Bupatinya aja sampai penasaran loh dan ikut berkunjung kesitu. Ya bukan kita yang menggembar gemborkan sendiri, tapi mereka sendiri yang cerita. Ya mungkin kita buat model Ghost Buster aja Son, TIM Pembasmi Hantu hahaha!’
‘Heh itu gak lucu tau Dit, kita tidak pernah tau masalah yang akan kita hadapi nanti. Apalagi mereka semua sudah tau keberadaan kita dan sepak terjang kita, pasti mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi kita!’
‘Ya gak usah sentimentil gitu dong Son. Kamu kan Si Buta Sakti yang keren hehe pasti bisa menghadapi mereka!’
‘Ah kamu Dit, sompral kalau ngomong, jangan terlalu percaya diri seperti itulah!’ ‘Hahaha bercanda kali Son, gak usah sok serius gitu dong. By The Way, kenapa si sekarang kita ngomongnya kamu aku, kan biasanya gue elo!’
‘Hehe kan beda cerita ya beda beda bahasa dong, lagian biar pembaca bisa mengerti maksud kita, Ya gak pembaca?’ Bagi yang lagi baca bisa jawab atau menganggukkan kepala tanda setuju.
Bagi yang belum Baca kisah sebelumnya silahkan baca dengan Judul Misteri Goleok Emas Bertuah dan Damayanti Versus Setan di Blog ini yo.
***
Senja mulai merona , buru – burung kembali ke sarangnya. semua pekerja mulai mengemasi barang – barang mereka dan bergegas pulang. Ana terlihat mulai panik kembali. Ia segera berlari kearah para pekerja yang membantu mengurusi perkebunannya.
“Hei tunggu, tak adakah diantara kalian yang mau menemaniku disini?” Sahut Ana memelas. “Baiklah, jika ada yang mau menemaniku dan menjagaku disini setiap malamnya, akan kunaikkan upah kalian menjadi tiga kali lipat, bagaimana?” Sahut Ana bersemangat dan mereka semua menggeleng lemah.
“Maaf Nona, bukannya kami tak bersedia, tapi kami masih memiliki keluarga dirumah, jika kami tak kembali bahkan harus meregang nyawa disini lalu bagaimana nasib Istri dan anak kami, mohon Nona mengerti” Sahut salah seorang pekerja dengan nada rendah.
“Apakah kalian bisa membantuku bagaimana caranya agar kediaman keluargaku ini bisa terbebas dari malapetaka sialan ini?” dan semua menggeleng lemah.
“Lalu kalian akan tersenyum jika aku mati, Lalu kalian bisa bebas menjarah semua perkebunan milik keluargaku ini setelah aku mati kan? Itu kan yang kalian inginkan? Huh dasar serakah! Mau enaknya sendiri kalian setelah keluargaku sudah membantu kalian hingga seperti ini!” Sahut Ana mulai kesal.
“Maaf Nona, bukannya kami tak tahu balas budi, tapi kami semua benar – benar takut Nona, kami ingin sekali membantu Nona Ana, tapi apalah daya, kami hanya buruh Tani biasa, melindungi diri sendiri saja kami tak mampu apalagi harus melindungi Nona. Lagipula jika kami ikut tewas, lalu bagaimana dengan nasib Istri dan anak kami? Mohon mengertilah Nona’. Sahut mereka memelas.
“Ya sudah, jika besok aku mati, silahkan ambil semua hasil kebun keluargaku ini. Ambilah sesuka kalian biarkan mayatku membusuk disini dan kalian tak usah perdulikan aku!” Sahut Ana begitu kesal sambil membalikkan tubuhnya memasuki Puri mewah milik keluarganya yang sudah tewas satu persatu secara mengenaskan.
Ingin rasanya ia segera mengemasi barang – barangnya dan lari meninggalkan Puri berhantu itu. Tapi jika mengingat Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Adik dan Kakaknya mati mengenaskan disitu kembali amarahnya memuncak. Ia sungguh tidak terima keluarganya mati dengan cara yang tidak wajar, Polisipun tak sanggup mengusut kasus kematian keluarganya dan seperti cuci tangan tak mau mencampuri kasus kriminal ini. Tak ada saksi, tak ada bukti siapa pembunuhnya dan mereka semua tewas seperti seolah – olah membunuh diri mereka sendiri.
Ana segera memasuki kamar besarnya itu. Ia segera menyalakan Lampu dan Lilin – lilin yang berada di sekitar kamarnya. Ia tahu biasanya disaat tengah malam listrik akan mati dan hanya lilin – lilin itulah yang dapat menerangi kamarnya. Ia segera memasang Salib – salib pada beberapa bagian tembok kamarnya. Kemudian ia terduduk di tepi kamar dan menmegangi kalung Salib pada lehernya lalu berdoa. Ia tidak tahu sampai kapan lagi ia akan bisa bertahan hidup setelah beberapa minggu ia selalu di teror di setiap malamnya oleh mahluk yang tak kasat mata. Ia berdoa dan terus berdoa sembari memegangi kalung Salibnya. Butir – butir air mata mulai menetes di pipinya. Ia masih mengingat e-mail yang dikirimkan Adit padanya agar ia harus memberanikan diri menghadapi semuanya. Pasrah kepada Tuhan dan yakin kepada diri sendiri kuncinya, tapi begitu mahluk astral itu mengganggunya sepertinya keyakinannya lumpuh begitu saja. Mahluk itu sepertinya tak takut pada apapun.
Tok, tok tok tiba – tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras. Ana mulai gemetaran, ia segera beringsut kepojok tempat tidurnya sembari gemetaran. Tak, Tak Tak! Sebuah suara langkah kaki bersepatu Boot berjalan perlahan tapi pasti menuju kamar Ana yang tengah ketakutan.Lap! Tiba – tiba lampu listrik kamar Ana mati dan hanya api pada lilin kamarnya saja yang menyala.
Grrrr! Suara geraman dengan langkah sepatu Boot itu perlahan semakin terdengar oleh Ana. Duar! Duar! Duar! Kembali pintu itu digedor lebih kuat dan keras.
Tiba – tiba suara geraman itu hilang disertai suara langkah bersepatu Boot juga ikut menghilang. Sembari ketakutan Ana mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan yang tampak sepi.
“Oh Tuhan, terimakasih telah mengusir mereka!’ Sahut Ana pelan.
Tiba – tiba tempat tidur yang ditiduri Ana bergoyang keras hingga Ana terpental kesana kemari. Ana terus bertahan sembari memegangi kalung Salibnya itu.
“Hahaha ....hahaha Ana, sekarang tibalah giliranmu yang akan mati!”
Suara mengerikan itu menggelegar keseluruh kamar tidur Ana dan tiba – tiba muncul wajah mengerikan di atap kamar Ana. Sebuah wajah yang sangat mengerikan sembari tertawa dan matanya yang besar terus mengawasi Ana dengan pandangan yang tajam.
“Tidak, kaulah yang harus pergi. Atas nama Jesus Kristus pergilah kau ke neraka!” Sahut Ana berteriak keras memberanikan diri dengan meraih sebilah pisau dibalik bajunya dan melemparkan pisau tersebut kearah wajah besar yang mengerikan itu di atap kamar.
Jap! Pisau itu berhasil menancap pada dahi wajah mengerikan itu. Wajah mengerikan itu terdiam sesaat sembari memandang tajam kearah ana dan tes! Tes! Tes! Beberapa tetes darah hitam mulai menetes dari atap kamar Ana. Segera ana beringsut menghindari tetesan darah hitam itu yang begitu jatuh kebawah langsung berubah menjadi asap panas yang mengepul.
Pisau yang tertancap itu kemudian masuk perlahan kedalam dahi wajah besar yang mengerikan itu dan menghilang. Kembali tawa yang mengerikan itu menggema diseluruh kamar Ana. Sedangkan ana jatuh terjelembab dari tempat tidurnya, ia berusaha kembali bangun dengan sisa - sisa tenaganya yang masih ada.
“Dasar bodoh, mainan seperti ini saja kau tunjukan padaku!”
Tiba – tiba kalung rantai emas dengan Salib yang berada pada leher Ana tertarik dan mengikat kuat leher Ana. Ana kembali kesakitan sembari berusaha melepaskan jeratan kalung Salib itu yang semakin kencang hingga Ana sendiri kesulitan bernafas dan Bruk! Ia kembali jatuh terjelembab.
***
Adit tampak mulai kelelahan karena dari tadi sore ia berjalan terus menembus rimbunan pepohonan demi sampai ke Puri milik Ana. Sedangkan Sony hanya diam seribu bahasa sembari terus mengayunkan tongkatnya mengikuti Pak Singgih yang terus berjalan sembari menebas akar dan ranting – ranting pohon yang menghalangi jalan mereka.
“Tunggu Pak Singgih, sebenarnya masih lamakah perjalanan menuju tempat Ana itu?” Sahut Adit sembari mengatur nafasnya yang mulai ngos – ngosan.
“Sebentar lagi kita sampai Tuan, sebaiknya Tuan Adit tetap bersabar!”
“Sudah, sudah sebaiknya kita istirahat dulu disini, kakiku sudah mulai pegal. Besok saja kita teruskan perjalanan!” Sahut Adit mulai tidak sabar.
“Maaf Tuan Adit, bukan maksud saya menolak gagasan itu, hanya saja jika kita menunda waktu, saya takut nyawa Nona Ana tidak bisa diselamatkan!” Sahut Pak Singgih memberikan pengertian kepada Adit.
“Menolong si menolong, tapi kalau sampai sana tenaga kita habis, sama saja kita mengantarkan nyawa kita ke tempat itu. Sudah Pak kita tetapkan istirahat dulu disini, perkara nanti mau melanjutkan atau tidak nanti Bapak tunggu perintah dari kita!” Sahut Adit mulai emosi.
“Baiklah kalau begitu selamat beristirahat panjang tuan – tuan!”
Sring! Tiba – tiba Pak Singgih menghunuskan goloknya dan segera mengarahkannya kearah Adit yang belum siap dengan serangan Pak Singgih yang mendadak tersebut. Trang! Sebuah tongkat alumunium menghadang serangan itu yang sudah pasti Sony pemiliknya.
Hiyaaat! Trang! Trang Trang! Pertempuran sengit tak dapat dihindarkan lagi. Pak Singgih bertarung hebat melawan Sony dengan tongkat alumuniumnya. Sepertinya Pak Singgih sudah terbiasa bertarung menggunakan goloknya itu dan Sony tak mau mengalah begitu saja. Hingga Sony segera melompat dan membalikan tubuhnya keatas seraya menendangkan kakinya kearah Pak Singgih yang belum siap dengan serangan cepat itu dan Buk! Tendangan Sony berhasil mengenai bahu kanan Pak Singgih dan ia bergulingan karena tendangan Sony yang cepat dan kuat.
Sembari memegangi bahu kanannya yang memar karena tendangan Sony itu Pak Singgih berusaha bangkit dengan nafas yang terengah – engah. Ia tidak menyangka Sony masih memiliki tenaga sekuat itu setelah ia berusaha berputar – putar untuk menghabiskan tenaga mereka berdua.
“Kalian memang hebat, bagaimana kalau kalian bergabung denganku untuk menguasai pulau ini?” sahut Pak Singgih dengan nafas terengah – engah.
“Sepertinya anda salah memberikan penawaran kepada kami Pak!” Sahut Sony merendah.
“Baiklah kalau begitu, selamat datang di neraka!” Sahut Pak Singgih sembari menendang bongkahan batu yang ada disamping kanannya dan ....
Aaargh! Tiba – tiba tanah yang dipijak Sony dan Adit menggembur dan Blas! Tanah itu amblas dan mereka berdua jatuh pada lubang jebakan yang sudah disiapkan Pak Singgih yang tertawa lebar menyaksikan Sony dan Adit yang tak menyangka dengan kejadian itu.
***
Aaah! Adit mulai mengumpulkan kesadarannya perlahan – lahan. Ia merasakan sakit disekucur tubuhnya dan ia berusaha mengedarkan pandangan disekililingnya tapi suasana tampak gelap gulita.
“Son! Dimana kamu Son?” seru Adit ketika mulai bisa mengembalikan kesadarannya dan ingatan terakhir ketika terjatuh bersama Sony.
Aaah! Sebuah suara pelan teratngkap pada pendengaran Adit dan ia segera beranjak dari tempatnya menuju asal suara itu. Adit berusaha menggunakan pendengaran dan rabaan tangan serta kakinya menuju arah suara itu karena keadaan memang gelap gulita tanpa adanya penerangan sama sekali.
“Son, kaukah itu?”
Tampak sebuah pergerakan kecil menunjukkan tanda – tanda adanya kehidupan pada arah suara itu. Adit tetap berusaha menuju kearah suara itu dengan sekuat tenaga walaupun terkadang ia harus terjatuh tersandung batu dan dataran yang tidak rata.
“Son, kaukah itu?” Kembali Adit berusaha mencari sahabat terbaiknya itu.
“I – iya Dit, ini aku!” tampak sebuah suara yang tidak asing lagi terdengar dan Adit mulai bernafas lega.
Sony mulai bergerak dengan sisa – sisa tenaganya dan terus bergerak menuju kearah Adit walaupun rasa sakit akibat terjatuh pada lubang dengan ketinggian yang cukup dalam membuat tubuhnya merasakan sakit di sekucur tubuhnya sama halnya seperti Adit.
Blep! Sony menyalakan api untuk membakar rokoknya dan Adit mulai bisa menghampiri sahabatnya itu dengan api yang membakar Rokok Sony tersebut.
“Gila kamu Son, disaat genting seperti ini masih sempat – sempatnya kamu untuk merokok!” Sahut Adit sambil ikut – ikutan menyalakan Rokoknya.
“Tenang Dit, dalam kondisi genting seperti ini justru kita harus menstabilkan emosi kita dan Rokoklah yang bisa menenangkan emosiku hehe!”
“Huh dasar lelaki suka mencari pembenaran!” Sahut Adit sembari menghembuskan asap rokoknya yang ia hisap.
Lalu mereka berdua kembali terduduk dibawah sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tersebut yang gelap.
“Ana bagaimana ya nasibnya, apakah ia selamat atau tidak, ah ini memang salahku Son, kenapa aku harus memberikan e-mailku dan menggembar gemborkan siapa kita di dunia maya. Jika tidak mungkin kita tidak menghadapi masalah seperti ini!” Sahut Adit menyesal.
“Sudahlah Dit, tidak baik menyesali diri sendiri” sahut Sony menenangkan Adit.
“Tidak Son, akulah yang salah, akulah yang terlalu gegabah. Aku baru tersadar ketika kau selalu berusaha melindungiku, menyelamatkan nyawaku dan tadi ketika aku hampir kehilanganmu sepertinya aku adalah manusia paling berdosa Son!”. Sahut Adit dengan nada penyesalan.
“Dit, tahukah kamu ketika semua orang tuaku meninggal, hanya kamu dan keluargamu yang selalu berada disisiku dan menemaniku sampai sekarang. Kita bersahabat semenjak kecil dan aku tahu sifat baik dan burukmu. Aku tahu kau punya kebaikan yang sangat baik. Sifatmu yang suka menolong membuatmu selalu berada dalam bahaya. Jujur memang pada awalnya aku kurang setuju kita kesini karena aku tidak terlalu yakin dengan kemampuanku. Tapi setelah melihat semangatmu ingin membantu orang lain yang dalam kesulitan dan percaya sepenuhnya terhadap kemampuanku yang Allah berikan, dalam perjalanan tadi aku menjadi berpikir betul juga katamu Dit. Kenapa aku harus takut, kenapa aku harus mengingkari takdir yang Allah berikan. Justru dengan kemampuan ini kita harus membantu kepada orang lain yang memang memerlukan bantuan kita walaupun mungkin mereka hanya menjebak kita, walaupun mungkin kita harus mati dalam perjalanan, atau misi tersebut tak bisa kita selesaikan dengan sempurna. Tapi niat baik kita akan selalu diingat mereka”
“Maafin aku ya Son sudah merepotkanmu” “Tidak Dit, tak ada yang harus dimaafkan. Sepertinya membuat Tim Ghost Buster bagus juga hehe, bisa kamu pikirkan namanya nanti ya!” Sahut Sony sembari menepuk pundak Adit.
“Lalu sekarang bagaimana langkah selanjutnya ni Son?”
“Ya tinggal pakai ponselmu saja Dit. Kan kemarin Ana sudah share location nya lewat whatsapp?”
“Ah bego banget gue. Ok Son sip sip!” Sahut Adit mulai dengan bahasa betawinya.
“Kalo berdasarkan ponsel ini si ternyata kita sudah dekat sekali dengan Puri dimana Ana tinggal. Ternyata Singgih brengsek itu hanya bergerak memutari tempat Ana saja!”
“Baiklah ayo tunggu apalagi Dit?”
“Eh sompral, untuk kesana kita harus manjat dulu sampai keatas di tempat semula kita terjatuh, baru kita bisa ketempat Ana!”
“Ya sudah panjat saja Dit, kamu kan jago panjat tebing!”
“Ah iya juga ya, oh ya aku juga bawa peralatan untuk panjat tebing ini, tapi aku lupa bawa senter besar Son, aku harus melihat secara teliti dulu tebing dindingnya agar bisa kutemukan celah – celah untuk naik!”
“Tenang aku bawa senter superku, jadi kamu bisa cek dinding mana yang bisa kamu naiki!”
“Weeez hebat, kita seperti macgyver aja ya hehe!”
“Sudah ayo waktu kita tidak banyak Dit!”
Adit segera beringsut memperhatikan dinding tebing itu dengan senter miliki Sony dan akhirnya bergerak mulai memanjat tebing dinding itu yang cukup tinggi. Tidak lupa ia memaku dan memasang tali agar Sony nanti dapat mengikuti arah pergerakan yang telah ia buat. Hampir tiga jam lamanya Adit berkutat dengan dinding – dinding tebing itu dan akhirnya ia berhasil sampai keatas. Sony yang melihat keberhasilan Adit segera beringsut mengikuti tali yang sudah disiapkan Adit dan hanya membutuhkan tidak kurang dari satu jam saja sudah berhasil sampai ditempat semula mereka terjatuh.
Lalu dengan bantuan Google Map mereka berjalan menyusuri gelapnya malam dengan penuh keberanian. Hingga mereka berhenti sejenak memperhatikan sebuah pemandangan yang berada di depan mata mereka.
“Akhirnya kita menemukan tempat kediaman Ana Son” Sahut Adit yang masih takjub memperhatikan kemegahan Puri keluarga ana yang gelap gulita tanpa adanya penerangan.
“Ayo kita ketuk kediaman Ana itu Dit dan terus waspada!” Sahut Sony sembari melangkahkan kakinya menuju pintu utama Puri tersebut.
Dor! Dor! Dor! “Ana, ini kami, tolong bukakan pintunya!” Sahut Adit sembari menggedor keras Pintu utama itu yang hanya memantulkan suara pukulan Adit pada pintu tersebut.
Berulang – ulang Adit dan Sony bergantian mengetuk Puri tersebut tetapi tak ada seorangpun yang menjawab hingga srek! Srek! Srek! Sebuah langkah kaki menuruni tangga didalam Puri tersebut dan kunci pintu Puri itu terbuka dan ...
Kreek! Sebuah wajah manis diterangi cahaya lilin menyapa Adit dan Sony dengan datar.
“Oh, ternyata kalian sudah datang, ayo masuklah!” Sahut Ana dengan pandangan kosong. “Perkenalkan nama saya Adit dan ini sahabat saya Sony, maaf kami agak terlambat datang kesini karena ada beberapa halangan!”
“Nama saya Mariana, panggil saja Ana, ya silahkan masuk saja dan ikuti saya. Pasti kalian sangat kelelahan!”
“Ah tidak seberapa, oh ya apakah kamu baik – baik saja?” Tanya Adit bersemangat ketika menyadari wajah cantik Ana begitu mempesona dengan cahaya Lilin yang menerpa.
“Ya, aku tidak apa – apa!”
“Syukurlah kalau begitu, kami dari tadi sangat mengkhawatirkan kamu Ana!” Sahut Adit mulai menggombal.
“Silahkan duduk, biar aku siapkan beberapa makanan, pasti kalian sudah kelaparan dan kehausan!”
“Ah tidak seperti itu juga si, tapi kalau kamu yang memaksa ya sudah kami sangat berterimakasih!” Sahut Adit yang terus menerus berusaha mencari pembicaraan tanpa memperdulikan Sony yang hanya terdiam. (Bersambung ke Misteri Puri Berhantu Part 2)
Misteri Puri Berhantu Part 2
'Semoga surat yang kukirimkan kepada mereka bisa sampai dan aku berharap mereka mau datang kesini menolongku' Ungkap Ana dalam hati.
***
Perahu yang dinaiki oleh Tiga orang itu akhirnya berhasil merapat setelah diombang ambingkan oleh ombak - ombak lautan yang mulai mengganas.
'Alhamdulillah kita nyampe ni Son' Sahut Adit bernafas lega setelah menempuh perjalanan air sekitar dua jam lamanya.
‘Iya, beruntung saja perahu yang kita naiki memang kuat dan Pak Singgih memang hebat bisa mengantarkan kita dengan selamat. Terimakasih ya Pak Singgih!’ Sahut Sony, dan Orang Tua bercaping itu hanya tersenyum menangguk.
‘Ayo Son, Ana pasti sudah menunggu kita dari kemarin !’ Sahut Adit bersemangat. Iya Dit, tapi bisa – bisanya si kamu kok kenal sama Si Ana ini?’ Sahut Sony sambil mengangkat Ransel Gunungnya yang terlihat berat.
‘Iya Son, semenjak cerita keberhasilan kita dulu membereskan si Raja Iblis di Desa Bapakku itu tersebar di dunia maya, ternyata banyak respon positif loh. Banyak sekali e-mail yang masuk dan meminta bantuan kita.’ Sahut Adit penuh semangat.
‘Ah seharusnya cerita itu tidak perlu tersebar Dit, kan jadi seolah – olah kita yang pamer dan narsis!’
‘Ya gak gitu juga Son. Ya yang namanya media, cerita Desa yang hilang dan Golok Emas Bertuah itu menjadi sangat terkenal sampai para wartawan saja pada bolak – balik kesitu. Bupatinya aja sampai penasaran loh dan ikut berkunjung kesitu. Ya bukan kita yang menggembar gemborkan sendiri, tapi mereka sendiri yang cerita. Ya mungkin kita buat model Ghost Buster aja Son, TIM Pembasmi Hantu hahaha!’
‘Heh itu gak lucu tau Dit, kita tidak pernah tau masalah yang akan kita hadapi nanti. Apalagi mereka semua sudah tau keberadaan kita dan sepak terjang kita, pasti mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi kita!’
‘Ya gak usah sentimentil gitu dong Son. Kamu kan Si Buta Sakti yang keren hehe pasti bisa menghadapi mereka!’
‘Ah kamu Dit, sompral kalau ngomong, jangan terlalu percaya diri seperti itulah!’ ‘Hahaha bercanda kali Son, gak usah sok serius gitu dong. By The Way, kenapa si sekarang kita ngomongnya kamu aku, kan biasanya gue elo!’
‘Hehe kan beda cerita ya beda beda bahasa dong, lagian biar pembaca bisa mengerti maksud kita, Ya gak pembaca?’ Bagi yang lagi baca bisa jawab atau menganggukkan kepala tanda setuju.
Bagi yang belum Baca kisah sebelumnya silahkan baca dengan Judul Misteri Goleok Emas Bertuah dan Damayanti Versus Setan di Blog ini yo.
***
Senja mulai merona , buru – burung kembali ke sarangnya. semua pekerja mulai mengemasi barang – barang mereka dan bergegas pulang. Ana terlihat mulai panik kembali. Ia segera berlari kearah para pekerja yang membantu mengurusi perkebunannya.
“Hei tunggu, tak adakah diantara kalian yang mau menemaniku disini?” Sahut Ana memelas. “Baiklah, jika ada yang mau menemaniku dan menjagaku disini setiap malamnya, akan kunaikkan upah kalian menjadi tiga kali lipat, bagaimana?” Sahut Ana bersemangat dan mereka semua menggeleng lemah.
“Maaf Nona, bukannya kami tak bersedia, tapi kami masih memiliki keluarga dirumah, jika kami tak kembali bahkan harus meregang nyawa disini lalu bagaimana nasib Istri dan anak kami, mohon Nona mengerti” Sahut salah seorang pekerja dengan nada rendah.
“Apakah kalian bisa membantuku bagaimana caranya agar kediaman keluargaku ini bisa terbebas dari malapetaka sialan ini?” dan semua menggeleng lemah.
“Lalu kalian akan tersenyum jika aku mati, Lalu kalian bisa bebas menjarah semua perkebunan milik keluargaku ini setelah aku mati kan? Itu kan yang kalian inginkan? Huh dasar serakah! Mau enaknya sendiri kalian setelah keluargaku sudah membantu kalian hingga seperti ini!” Sahut Ana mulai kesal.
“Maaf Nona, bukannya kami tak tahu balas budi, tapi kami semua benar – benar takut Nona, kami ingin sekali membantu Nona Ana, tapi apalah daya, kami hanya buruh Tani biasa, melindungi diri sendiri saja kami tak mampu apalagi harus melindungi Nona. Lagipula jika kami ikut tewas, lalu bagaimana dengan nasib Istri dan anak kami? Mohon mengertilah Nona’. Sahut mereka memelas.
“Ya sudah, jika besok aku mati, silahkan ambil semua hasil kebun keluargaku ini. Ambilah sesuka kalian biarkan mayatku membusuk disini dan kalian tak usah perdulikan aku!” Sahut Ana begitu kesal sambil membalikkan tubuhnya memasuki Puri mewah milik keluarganya yang sudah tewas satu persatu secara mengenaskan.
Ingin rasanya ia segera mengemasi barang – barangnya dan lari meninggalkan Puri berhantu itu. Tapi jika mengingat Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Adik dan Kakaknya mati mengenaskan disitu kembali amarahnya memuncak. Ia sungguh tidak terima keluarganya mati dengan cara yang tidak wajar, Polisipun tak sanggup mengusut kasus kematian keluarganya dan seperti cuci tangan tak mau mencampuri kasus kriminal ini. Tak ada saksi, tak ada bukti siapa pembunuhnya dan mereka semua tewas seperti seolah – olah membunuh diri mereka sendiri.
Ana segera memasuki kamar besarnya itu. Ia segera menyalakan Lampu dan Lilin – lilin yang berada di sekitar kamarnya. Ia tahu biasanya disaat tengah malam listrik akan mati dan hanya lilin – lilin itulah yang dapat menerangi kamarnya. Ia segera memasang Salib – salib pada beberapa bagian tembok kamarnya. Kemudian ia terduduk di tepi kamar dan menmegangi kalung Salib pada lehernya lalu berdoa. Ia tidak tahu sampai kapan lagi ia akan bisa bertahan hidup setelah beberapa minggu ia selalu di teror di setiap malamnya oleh mahluk yang tak kasat mata. Ia berdoa dan terus berdoa sembari memegangi kalung Salibnya. Butir – butir air mata mulai menetes di pipinya. Ia masih mengingat e-mail yang dikirimkan Adit padanya agar ia harus memberanikan diri menghadapi semuanya. Pasrah kepada Tuhan dan yakin kepada diri sendiri kuncinya, tapi begitu mahluk astral itu mengganggunya sepertinya keyakinannya lumpuh begitu saja. Mahluk itu sepertinya tak takut pada apapun.
Tok, tok tok tiba – tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras. Ana mulai gemetaran, ia segera beringsut kepojok tempat tidurnya sembari gemetaran. Tak, Tak Tak! Sebuah suara langkah kaki bersepatu Boot berjalan perlahan tapi pasti menuju kamar Ana yang tengah ketakutan.Lap! Tiba – tiba lampu listrik kamar Ana mati dan hanya api pada lilin kamarnya saja yang menyala.
Grrrr! Suara geraman dengan langkah sepatu Boot itu perlahan semakin terdengar oleh Ana. Duar! Duar! Duar! Kembali pintu itu digedor lebih kuat dan keras.
Tiba – tiba suara geraman itu hilang disertai suara langkah bersepatu Boot juga ikut menghilang. Sembari ketakutan Ana mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan yang tampak sepi.
“Oh Tuhan, terimakasih telah mengusir mereka!’ Sahut Ana pelan.
Tiba – tiba tempat tidur yang ditiduri Ana bergoyang keras hingga Ana terpental kesana kemari. Ana terus bertahan sembari memegangi kalung Salibnya itu.
“Hahaha ....hahaha Ana, sekarang tibalah giliranmu yang akan mati!”
Suara mengerikan itu menggelegar keseluruh kamar tidur Ana dan tiba – tiba muncul wajah mengerikan di atap kamar Ana. Sebuah wajah yang sangat mengerikan sembari tertawa dan matanya yang besar terus mengawasi Ana dengan pandangan yang tajam.
“Tidak, kaulah yang harus pergi. Atas nama Jesus Kristus pergilah kau ke neraka!” Sahut Ana berteriak keras memberanikan diri dengan meraih sebilah pisau dibalik bajunya dan melemparkan pisau tersebut kearah wajah besar yang mengerikan itu di atap kamar.
Jap! Pisau itu berhasil menancap pada dahi wajah mengerikan itu. Wajah mengerikan itu terdiam sesaat sembari memandang tajam kearah ana dan tes! Tes! Tes! Beberapa tetes darah hitam mulai menetes dari atap kamar Ana. Segera ana beringsut menghindari tetesan darah hitam itu yang begitu jatuh kebawah langsung berubah menjadi asap panas yang mengepul.
Pisau yang tertancap itu kemudian masuk perlahan kedalam dahi wajah besar yang mengerikan itu dan menghilang. Kembali tawa yang mengerikan itu menggema diseluruh kamar Ana. Sedangkan ana jatuh terjelembab dari tempat tidurnya, ia berusaha kembali bangun dengan sisa - sisa tenaganya yang masih ada.
“Dasar bodoh, mainan seperti ini saja kau tunjukan padaku!”
Tiba – tiba kalung rantai emas dengan Salib yang berada pada leher Ana tertarik dan mengikat kuat leher Ana. Ana kembali kesakitan sembari berusaha melepaskan jeratan kalung Salib itu yang semakin kencang hingga Ana sendiri kesulitan bernafas dan Bruk! Ia kembali jatuh terjelembab.
***
Adit tampak mulai kelelahan karena dari tadi sore ia berjalan terus menembus rimbunan pepohonan demi sampai ke Puri milik Ana. Sedangkan Sony hanya diam seribu bahasa sembari terus mengayunkan tongkatnya mengikuti Pak Singgih yang terus berjalan sembari menebas akar dan ranting – ranting pohon yang menghalangi jalan mereka.
“Tunggu Pak Singgih, sebenarnya masih lamakah perjalanan menuju tempat Ana itu?” Sahut Adit sembari mengatur nafasnya yang mulai ngos – ngosan.
“Sebentar lagi kita sampai Tuan, sebaiknya Tuan Adit tetap bersabar!”
“Sudah, sudah sebaiknya kita istirahat dulu disini, kakiku sudah mulai pegal. Besok saja kita teruskan perjalanan!” Sahut Adit mulai tidak sabar.
“Maaf Tuan Adit, bukan maksud saya menolak gagasan itu, hanya saja jika kita menunda waktu, saya takut nyawa Nona Ana tidak bisa diselamatkan!” Sahut Pak Singgih memberikan pengertian kepada Adit.
“Menolong si menolong, tapi kalau sampai sana tenaga kita habis, sama saja kita mengantarkan nyawa kita ke tempat itu. Sudah Pak kita tetapkan istirahat dulu disini, perkara nanti mau melanjutkan atau tidak nanti Bapak tunggu perintah dari kita!” Sahut Adit mulai emosi.
“Baiklah kalau begitu selamat beristirahat panjang tuan – tuan!”
Sring! Tiba – tiba Pak Singgih menghunuskan goloknya dan segera mengarahkannya kearah Adit yang belum siap dengan serangan Pak Singgih yang mendadak tersebut. Trang! Sebuah tongkat alumunium menghadang serangan itu yang sudah pasti Sony pemiliknya.
Hiyaaat! Trang! Trang Trang! Pertempuran sengit tak dapat dihindarkan lagi. Pak Singgih bertarung hebat melawan Sony dengan tongkat alumuniumnya. Sepertinya Pak Singgih sudah terbiasa bertarung menggunakan goloknya itu dan Sony tak mau mengalah begitu saja. Hingga Sony segera melompat dan membalikan tubuhnya keatas seraya menendangkan kakinya kearah Pak Singgih yang belum siap dengan serangan cepat itu dan Buk! Tendangan Sony berhasil mengenai bahu kanan Pak Singgih dan ia bergulingan karena tendangan Sony yang cepat dan kuat.
Sembari memegangi bahu kanannya yang memar karena tendangan Sony itu Pak Singgih berusaha bangkit dengan nafas yang terengah – engah. Ia tidak menyangka Sony masih memiliki tenaga sekuat itu setelah ia berusaha berputar – putar untuk menghabiskan tenaga mereka berdua.
“Kalian memang hebat, bagaimana kalau kalian bergabung denganku untuk menguasai pulau ini?” sahut Pak Singgih dengan nafas terengah – engah.
“Sepertinya anda salah memberikan penawaran kepada kami Pak!” Sahut Sony merendah.
“Baiklah kalau begitu, selamat datang di neraka!” Sahut Pak Singgih sembari menendang bongkahan batu yang ada disamping kanannya dan ....
Aaargh! Tiba – tiba tanah yang dipijak Sony dan Adit menggembur dan Blas! Tanah itu amblas dan mereka berdua jatuh pada lubang jebakan yang sudah disiapkan Pak Singgih yang tertawa lebar menyaksikan Sony dan Adit yang tak menyangka dengan kejadian itu.
***
Aaah! Adit mulai mengumpulkan kesadarannya perlahan – lahan. Ia merasakan sakit disekucur tubuhnya dan ia berusaha mengedarkan pandangan disekililingnya tapi suasana tampak gelap gulita.
“Son! Dimana kamu Son?” seru Adit ketika mulai bisa mengembalikan kesadarannya dan ingatan terakhir ketika terjatuh bersama Sony.
Aaah! Sebuah suara pelan teratngkap pada pendengaran Adit dan ia segera beranjak dari tempatnya menuju asal suara itu. Adit berusaha menggunakan pendengaran dan rabaan tangan serta kakinya menuju arah suara itu karena keadaan memang gelap gulita tanpa adanya penerangan sama sekali.
“Son, kaukah itu?”
Tampak sebuah pergerakan kecil menunjukkan tanda – tanda adanya kehidupan pada arah suara itu. Adit tetap berusaha menuju kearah suara itu dengan sekuat tenaga walaupun terkadang ia harus terjatuh tersandung batu dan dataran yang tidak rata.
“Son, kaukah itu?” Kembali Adit berusaha mencari sahabat terbaiknya itu.
“I – iya Dit, ini aku!” tampak sebuah suara yang tidak asing lagi terdengar dan Adit mulai bernafas lega.
Sony mulai bergerak dengan sisa – sisa tenaganya dan terus bergerak menuju kearah Adit walaupun rasa sakit akibat terjatuh pada lubang dengan ketinggian yang cukup dalam membuat tubuhnya merasakan sakit di sekucur tubuhnya sama halnya seperti Adit.
Blep! Sony menyalakan api untuk membakar rokoknya dan Adit mulai bisa menghampiri sahabatnya itu dengan api yang membakar Rokok Sony tersebut.
“Gila kamu Son, disaat genting seperti ini masih sempat – sempatnya kamu untuk merokok!” Sahut Adit sambil ikut – ikutan menyalakan Rokoknya.
“Tenang Dit, dalam kondisi genting seperti ini justru kita harus menstabilkan emosi kita dan Rokoklah yang bisa menenangkan emosiku hehe!”
“Huh dasar lelaki suka mencari pembenaran!” Sahut Adit sembari menghembuskan asap rokoknya yang ia hisap.
Lalu mereka berdua kembali terduduk dibawah sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tersebut yang gelap.
“Ana bagaimana ya nasibnya, apakah ia selamat atau tidak, ah ini memang salahku Son, kenapa aku harus memberikan e-mailku dan menggembar gemborkan siapa kita di dunia maya. Jika tidak mungkin kita tidak menghadapi masalah seperti ini!” Sahut Adit menyesal.
“Sudahlah Dit, tidak baik menyesali diri sendiri” sahut Sony menenangkan Adit.
“Tidak Son, akulah yang salah, akulah yang terlalu gegabah. Aku baru tersadar ketika kau selalu berusaha melindungiku, menyelamatkan nyawaku dan tadi ketika aku hampir kehilanganmu sepertinya aku adalah manusia paling berdosa Son!”. Sahut Adit dengan nada penyesalan.
“Dit, tahukah kamu ketika semua orang tuaku meninggal, hanya kamu dan keluargamu yang selalu berada disisiku dan menemaniku sampai sekarang. Kita bersahabat semenjak kecil dan aku tahu sifat baik dan burukmu. Aku tahu kau punya kebaikan yang sangat baik. Sifatmu yang suka menolong membuatmu selalu berada dalam bahaya. Jujur memang pada awalnya aku kurang setuju kita kesini karena aku tidak terlalu yakin dengan kemampuanku. Tapi setelah melihat semangatmu ingin membantu orang lain yang dalam kesulitan dan percaya sepenuhnya terhadap kemampuanku yang Allah berikan, dalam perjalanan tadi aku menjadi berpikir betul juga katamu Dit. Kenapa aku harus takut, kenapa aku harus mengingkari takdir yang Allah berikan. Justru dengan kemampuan ini kita harus membantu kepada orang lain yang memang memerlukan bantuan kita walaupun mungkin mereka hanya menjebak kita, walaupun mungkin kita harus mati dalam perjalanan, atau misi tersebut tak bisa kita selesaikan dengan sempurna. Tapi niat baik kita akan selalu diingat mereka”
“Maafin aku ya Son sudah merepotkanmu” “Tidak Dit, tak ada yang harus dimaafkan. Sepertinya membuat Tim Ghost Buster bagus juga hehe, bisa kamu pikirkan namanya nanti ya!” Sahut Sony sembari menepuk pundak Adit.
“Lalu sekarang bagaimana langkah selanjutnya ni Son?”
“Ya tinggal pakai ponselmu saja Dit. Kan kemarin Ana sudah share location nya lewat whatsapp?”
“Ah bego banget gue. Ok Son sip sip!” Sahut Adit mulai dengan bahasa betawinya.
“Kalo berdasarkan ponsel ini si ternyata kita sudah dekat sekali dengan Puri dimana Ana tinggal. Ternyata Singgih brengsek itu hanya bergerak memutari tempat Ana saja!”
“Baiklah ayo tunggu apalagi Dit?”
“Eh sompral, untuk kesana kita harus manjat dulu sampai keatas di tempat semula kita terjatuh, baru kita bisa ketempat Ana!”
“Ya sudah panjat saja Dit, kamu kan jago panjat tebing!”
“Ah iya juga ya, oh ya aku juga bawa peralatan untuk panjat tebing ini, tapi aku lupa bawa senter besar Son, aku harus melihat secara teliti dulu tebing dindingnya agar bisa kutemukan celah – celah untuk naik!”
“Tenang aku bawa senter superku, jadi kamu bisa cek dinding mana yang bisa kamu naiki!”
“Weeez hebat, kita seperti macgyver aja ya hehe!”
“Sudah ayo waktu kita tidak banyak Dit!”
Adit segera beringsut memperhatikan dinding tebing itu dengan senter miliki Sony dan akhirnya bergerak mulai memanjat tebing dinding itu yang cukup tinggi. Tidak lupa ia memaku dan memasang tali agar Sony nanti dapat mengikuti arah pergerakan yang telah ia buat. Hampir tiga jam lamanya Adit berkutat dengan dinding – dinding tebing itu dan akhirnya ia berhasil sampai keatas. Sony yang melihat keberhasilan Adit segera beringsut mengikuti tali yang sudah disiapkan Adit dan hanya membutuhkan tidak kurang dari satu jam saja sudah berhasil sampai ditempat semula mereka terjatuh.
Lalu dengan bantuan Google Map mereka berjalan menyusuri gelapnya malam dengan penuh keberanian. Hingga mereka berhenti sejenak memperhatikan sebuah pemandangan yang berada di depan mata mereka.
“Akhirnya kita menemukan tempat kediaman Ana Son” Sahut Adit yang masih takjub memperhatikan kemegahan Puri keluarga ana yang gelap gulita tanpa adanya penerangan.
“Ayo kita ketuk kediaman Ana itu Dit dan terus waspada!” Sahut Sony sembari melangkahkan kakinya menuju pintu utama Puri tersebut.
Dor! Dor! Dor! “Ana, ini kami, tolong bukakan pintunya!” Sahut Adit sembari menggedor keras Pintu utama itu yang hanya memantulkan suara pukulan Adit pada pintu tersebut.
Berulang – ulang Adit dan Sony bergantian mengetuk Puri tersebut tetapi tak ada seorangpun yang menjawab hingga srek! Srek! Srek! Sebuah langkah kaki menuruni tangga didalam Puri tersebut dan kunci pintu Puri itu terbuka dan ...
Kreek! Sebuah wajah manis diterangi cahaya lilin menyapa Adit dan Sony dengan datar.
“Oh, ternyata kalian sudah datang, ayo masuklah!” Sahut Ana dengan pandangan kosong. “Perkenalkan nama saya Adit dan ini sahabat saya Sony, maaf kami agak terlambat datang kesini karena ada beberapa halangan!”
“Nama saya Mariana, panggil saja Ana, ya silahkan masuk saja dan ikuti saya. Pasti kalian sangat kelelahan!”
“Ah tidak seberapa, oh ya apakah kamu baik – baik saja?” Tanya Adit bersemangat ketika menyadari wajah cantik Ana begitu mempesona dengan cahaya Lilin yang menerpa.
“Ya, aku tidak apa – apa!”
“Syukurlah kalau begitu, kami dari tadi sangat mengkhawatirkan kamu Ana!” Sahut Adit mulai menggombal.
“Silahkan duduk, biar aku siapkan beberapa makanan, pasti kalian sudah kelaparan dan kehausan!”
“Ah tidak seperti itu juga si, tapi kalau kamu yang memaksa ya sudah kami sangat berterimakasih!” Sahut Adit yang terus menerus berusaha mencari pembicaraan tanpa memperdulikan Sony yang hanya terdiam. (Bersambung ke Misteri Puri Berhantu Part 2)
Komentar
Posting Komentar