Minsteri Puri Berhantu Part 2

“Silahkan dimakan dan diminum, maaf hanya itu yang kupunya!”
“Ah tidak apa ana, ini juga sudah terlalu mewah buatku!” Sahut Adit dengan penuh semangat karena memang sejak tadi ia menahan rasa laparnya.

Hap! Tiba – tiba Sony memegang tangan Adit yang akan mengambil Roti dihadapannya. “Eh kamu apa – apaan si Son?” Sahut Adit jengkel karena niat menyantap makanannya dihalangi Sony.
“Jangan kamu makan Dit, makanan dan minuman itu beracun dan dia bukan Ana!”

Ana memundurkan langkahnya kebelakang, terkejut mendengar perkataan Sony tapi kemudian ia tersenyum dingin.

“Kau memang hebat anak muda, dan ini ucapan selamat datang dariku!” Tiba – tiba suara Ana berubah menjadi suara yang sangat menyeramkan dan sebilah pisau dengan cepat terbang menghunus kearah Sony.

Adit dan Sony bergulingan menghindari serangan mendadak tersebut dan Cap! Pisau tersebut menancap pada kursi yang Sony duduki tadi.

Adit dan Sony berdiri memasang kuda – kuda siap bertarung. Mahluk yang menyerupai Ana itu tertawa keras dan menyeramkan disertai tiupan angin kencang yang menghamburkan isi Puri tersebut.

“Kau rupanya yang telah membunuh saudaraku, Raja Iblis dari Timur!”
“Oh kalau yang kau bicarakan itu si Raja Iblis Gondrong Katro bermata merah aku hanya bisa menjawab bukan, Allah lah yang mengirimku untuk mencegah kezoliman yang telah saudaramu perbuat!” Sahut Sony berwibawa.
“Cuih, aku tak butuh alasan busukmu, aku diciptakan memang untuk membuat kalian menyesal hahaha!”
“Ya dan manusia seperti kami diciptakan untuk membereskan kezoliman kalian!”
“Banyak bicara kau anak muda ingusan!”

Tiba – tiba angin kencang berhamburan kearah Sony dan kilatan petir menyambar – nyambar kearah Sony berada. Sony segera bergulingan kesana kemari menghindari kilatan petir itu dan berusaha memperpendek jarak antara mahluk yang berwujud Ana dengan dirinya agar ia bisa menggunakan serangan balik.

Blar! Blar! Petir itu terus menyambar kearah Sony dan dengan cepat Sony bergulingan menghindar, terkadang ia bersalto kebelakang demi menghindari serangan petir tersebut dengan hembusan angin yang cukup kencang.

Dengan cepat Sony bersalto kedepan dan mengarahkan tendangan pamungkasnya kearah mahluk yang berwujud Ana tersebut dan Aaargh! Sebuah semburan api yang keluar dari mulut mahluk tersebut justru mengenai Sony dan ia bergulingan mematikan api yang sudah membakar tubuhnya.

Ketika sedang kerepotan mematikan api yang berada disekucur tubuhnya itu tiba – tiba mahluk itu segera mendekat dan berusaha untuk menyemburkan Api dari mulutnya itu tapi Hiyaat! Adit berhasil membekap leher mahluk itu dan mereka berdua sibuk berjibaku saling mengalahkan satu sama lainnya dan Aaargh! Adit dengan mudahnya dijambak dan dilemparkan begitu saja kedepan dan Bruk! Ia tersungkur jatuh mengenai tembok Puri tersebut. Mahluk tersebut tersenyum dingin dan kembali mengedarkan pandangannya kearah Sony yang sudah berhasil mematikan api yang membakar tubuhnya dan Kreek! Ia merobek bajunya yang terbakar dan membuangnya. Belum sempat si Mahluk itu bergerak segera Sony menendang meja makan itu dan Brak! Meja makan itu terbalik dan segera Sony menginjak sesuatu dibalik meja itu dan mengusap – ngusap dengan sepatunya.

Aaargh! Tampak si Mahluk itu kesakitan akibat apa yang telah Sony lakukan itu dan Sony terus melakukan hingga lambang itu hilang.

“Dit, kau lihat itu, ternyata ada orang yang berhasil memanggil Iblis ini dengan lambang satanis itu dan segera cepat larilah cari lambang satanis itu diseluruh Puri ini dan hapus agar kekuatan si Iblis itu melemah. Sementara biar aku hadapi Iblis gadungan ini sebisaku!”
“Baiklah Son, hati – hatilah!” Sahut Adit sembari melompat berlari menuruni anak tangga itu.

“bedebah kau mahluk ingusan, bagaimana kau bisa tahu semua itu?” Sahut mahluk itu sambil meringis kesakitan.
“Itulah intuisi yang Allah berikan dari langit untuk menghadapimu!”
“Allah, Allah lagi – lagi kau berbicara itu dasar mahluk sok suci!” “Ya, untuk menghadapimu aku tak perlu menggunakan otak manusiaku, penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasalah yang hanya aku bisa lakukan!”
“Baiklah kalau begitu akan kupercepat kau bertemu dengan Allah mu!” Sahut Mahluk itu sembari mengibaskan tangannya dan wush ! wush! Wush! Kuku – kuku mahluk tersebut terlepas dan terbang begitu cepat menuju kearah Sony yang langsung bergulingan berusaha menghindari serangan kuku – kuku tajam tersebut. Cap!
Cap! Cap! Kuku – kuku tersebut tertancap pada dinding Puri tersebut dan hangus terbakar. Sony segera bergerak maju untuk memperpendek jarak serangannya karena memang ia terbiasa menyerang dengan jarak pendek. Seakan tahu akan kelemahan Sony, sang mahluk tersebut melompat berusaha memberi jarak agar Sony tak terlalu berdekatan dengannya. Sony kembali terdiam menghentikan gerakannya. Ia menyadari mahluk tersebut sudah mengetahui kelemahannya. Inilah yang ditakutkan Sony selama ini, ia menyadari ia belum menguasai segala kemampuan untuk melawan mahluk – mahluk Astral yang dapat bergerak dalam empat Dimensi sekaligus. Ia juga belum berhasil menguasai Telekinesis, Tai Chi atau apa saja yang bisa menggunakan serangan dalam jarak jauh. Sang mahluk Astral itu terus membuat jarak setiap kali Sony mendekat dan terus menyerangnya dengan serangan jarak jauhnya. Tiba – tiba Mahluk Astral tersebut menggerakkan jarinya berputar – putar dan Lap! Lap! Lap! Muncul bola api yang berjatuhan dari atap secara bertubi – tubi dan terus bersamaan. Sony kembali bergulingan menghindari serangan hujan bola api tersebut dan dengan cepat mengambil nampan yang tergeletak di lantai lalu mengibaskan nampan tersebut ketika bola api itu hendak mengenai tubuhnya. Blar! Blar!
Blar! Bola api itu meledak hebat setiap kali Sony menangkisnya dengan nampannya. Sony tak dapat menyerang balik, yang ia lakukan hanya bertahan dan bertahan. Pergerakannya menjadi tidak teratur dan efisien karena ia harus menghindari hujan Bola Api tersebut sekuat tenaga.

Adit mulai bergerak cepat mencari simbol Satanis tersebut. Memang sangat sulit mencari tanda itu, apalagi lampu di Puri tersebut padam dan ia hanya mengandalkan remang – remang sinar rembulan yang seakan – akan berniat ikut membantu Adit dengan sinarnya. Adit mulai gusar dan panik karena dari tadi belum menemukan adanya tanda – tanda simbol Satanis itu tapi begitu mengingat sahabatnya sedang dalam bahaya, kembali energinya mengumpul memberikan semangat dan tenaga demi menyelamatkan sahabatnya Sony yang tengah bertarung melawan mahluk Astral tersebut.
Hufh! Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Disaat seperti ini ia harus menstabilkan emosinya dan ketika emosinya sudah stabil samar ekor matanya menangkap sesuatu dikejauhan sana. Sebuah lambang bintang dengan ujungnya yang berjarak sama satu sama lain menyembul dibawah patung Ksatria berkuda yang tengah menghunus pedang. Sembari tersenyum lega Adit berusaha menghapus lambang tersebut dibawah patung Ksatria berkuda tersebut dan ...
Sring! Trang! Adit terhuyung dan bergulingan karena serangan mendadak itu. Ternyata patung Ksatria berkuda itu hidup dan hampir saja menebas leher Adit yang belum siap dengan serangan tersebut. Beruntung refleks waspadanya langsung mengambil pisau Combat yang berada dibalik bajunya dan serangan itu berhasil ditangkisnya.
Adit mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Patung Ksatria Berkuda itu tiba – tiba hidup dan Hiiye! Suara kuda itu menunjukkan bahwa memang hidup. Tuk Tak Tuk Tak! Tiba – tiba kuda yang dikendarai Ksatria bertopeng itu bergerak maju memburu Adit. Dengan rasa tak percaya Adit segera berlari menjauh menghindari kejaran Ksatria berkuda tersebut. Kuda itu semakin melaju cepat dan Ksatria bertopeng itu sudah bersiap menghunus pedangnya guna menebas kepala Adit. Segera Adit melompat dan berpegangan pada sebuah tiang penyangga itu. Lalu ia memutar tubuhnya dengan cepat dan Jap! Blash! Pisau Combatnya itu berhasil menancap pada pundak belakang sebelah kiri dari Ksatria berkuda tersebut dan Ksatria berkuda itu menghilang bagaikan asap dan Klontang! Pisau Combat milik Adit terjatuh di lantai. Adit segera memungut pisau Combat itu dan mulai menajamkan kewaspadaannya lagi karena siapa tahu ada serangan mendadak yang akan menghabisi nyawanya. Tapi semua kembali sepi bergeming, dan Adit mulai menghapus tanda Simbol Satanis itu secara seksama.

***

Blar! Blar! Blar! Sony masih bergulingan menangkis serangan hujan Bola Api yang semakin mengganas. Ia sadar, lawannya kini tidak seperti lawannya terdauhulu si Raja Iblis yang dapat ia taklukan dengan cepat. Sekarang hanya waktulah yang bisa menjawabnya karena ia tak dapat berbuat banyak dalam pertarungan kali ini. Tiba – tiba...

Aaargh! Mahluk Astral itu memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan. Sony segera menghentikan pergerakannya dan bola – bola api tersebut menghilang begitu saja. Pasti Adit sudah menemukan simbol Satanis itu, ujar Sony dalam hati.

“Ini saatnya serangan balasan!” Sahut Sony sembari mengarahkan tongkatnya kearah mahluk Astral itu dan Ups! Prak! Tiba – tiba Sony berusaha melencengkan serangannya itu sehingga mengenai pilar yang berada disamping kanan mahluk Astral itu.
Hukh! Hukh! Hukh! Tiba – tiba mahluk Astral itu berubah suara menjadi sosok wanita yang tengah kesulitan bernafas.

“ Ana, kaukah itu?” Sahut Sony penasaran. Ia baru menyadari ada sosok Ana didalam tubuh mahluk Astral itu atau sebaliknya. Sony terhenyak sesaat menyaksikan kejadian itu.

“Ayo Ana, keluarkan semua kemampuanmu. Usir Roh Jahat itu dari tubuhmu!” Sahut Sony yang mulai mengerti dengan kejadian itu.

Kemudian mahluk itu terduduk sesaat dan terdiam kemudian ia kembali mengedarkan pandangan tajam kearah Sony.

“Ana sudah menjadi milikku wahai mahluk ingusan!” Kembali suara mengerikan itu muncul dari tubuh Ana.

“Kau benar – benar mahluk mengerikan yang pengecut, kau gunakan tubuh manusia yang tak berdosa untuk tujuan jahatmu!”
“Haha inilah persembahan pamungkasku. Seorang gadis yang akan menjadi jalan masuk dari penguasaan tertinggi dalam dunia fana ini. Bersiaplah kau menjadi budakku nanti!”
“Jangan harap mahluk jelek!”

Seketika pisau dapur, garpu, sendok dan semua peralatan makan terangkat dengan sendirinya dan wush! Semua peralatan itu bergerak cepat bagai anak panah menuju kearah Sony. Segera Sony berlari menjauh dan melompat bergulingan bersembunyi dibalik meja besar itu dan Cap! Cap! Cap! Dengan cepat pisau dan peralatan dapur itu menancap pada meja makan itu.
Sony mulai sedikit bisa bernafas lega dan hendak keluar dari balik meja makan itu, akan tetapi mahluk Astral itu kembali mengibaskan tangannya dan pisau beserta peralatan dapur lainnya kembali terangkat dan berusaha menghujam Sony bagaikan lesatan anak panah.

***

Adit mulai bergerak cepat mencari simbol Satanis berikutnya yang masih berada entah dimana. Ia harus menyeimbangkan emosinya seperti apa yang pernah Sony nasehatkan untuknya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri keadaan sahabatnya itu yang dalam bahaya jika ia tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan cepat.

“Tenang Dit, kamu harus tenang. Temukan lambang itu dengan intuisimu!” Sahut Adit berkata dalam hati untuk dirinya sendiri sambil berjalan perlahan. Tiba – tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik sembari berjongkok. Lalu, dengan ujung Pisau Combat nya ia mengetuk – ngetukan kedasar lantai yang telah ia lewati. Ia terus mengetukkan Pisau Combat nya pada beberapa ruas lantai yang ia injak dan dengan Pisau Combat nya ia berusaha mencongkel tepi lantai itu.

Kreek! Ternyata lantai itu memiliki celah yang dapat dibongkar dan dengan sisa – sisa kekuatannya Adit berusaha membuka celah itu dan berhasil. Terpampang dihadapannya beberapa anak tangga kecil yang menuju kebawah mengarah kesuatu tempat dan tanpa berpikir panjang lagi Adit mulai menuruni anak tangga itu secara perlahan satu demi satu dengan matanya yang penuh kewaspadaan.

Tampak ada sebuah penerangan dan Adit terhenyak ketika melihat sebuah Simbol Satanis besar berada pada dinding ruangan itu. Sebelum Adit menghilangkan rasa terkejutnya itu tiba – tiba suara langkah pelan berada dibelakang tubuhnya dan segera Adit membalikkan tubuhnya dan bersiap dengan rintangan terbarunya.

“Ho ho ho hebat juga kau anak muda, bisa selamat dari jebakan itu dan sekarang kau malah kesini”
“Oh jadi ini semua ulahmu ya Singgih!” Sahut Adit geram. “Sejak kapan kau tak memanggilku dengan sebutan Pak?”
“Sejak kau berbau busuk seperti ini!”
“Dasar anak sialan, beraninya kau mencoba untuk menghalangiku untuk menguasai pulau ini!” “Kaulah yang sialan Singgih, kau serahkan jiwamu untuk mahluk Astral jelek itu!”
“Baiklah sekarang akan benar – benar kukirim kau ke neraka dengan tanganku sendiri, Hiyaat!”

Wush! Trang! Trang! Wush! Beberapa kali Adit berusaha menghindari serangan Golok itu dan beberapa kali ia harus menangkisnya. Singgih seperti sudah kehilangan kesadarannya dan membabi buta kesetanan dan berupaya menebas kepala Adit.

Trang! Trang! Adit terus menangkis serangan singgih yang kesetanan itu dan mulai terpojok. Hap! Tap! Tap! Tap! Adit segera menjejakkan kakinya secara zig – zag keatas pada dinding tembok yang menyiku lalu bersalto kedepan dan Srek! Aaargh! Adit berhasil melukai lengan kanan Singgih yang mulai kehilangan keseimbangannya dan Klontang! Bruk!. Tadinya ia ingin sekali memancapkan Pisaunya tepat diubun – ubun kepala Singgih yang tengah lengah itu, tapi ia kembali teringat perkataan sahabatnya itu agar tak terlalu gegabah menghabisi lawan kita yang sudah lemah. Singgih berusaha bangkit dengan lengan kanannya yang bercucuran darah tapi Bruk! Ia terjatuh lagi dan dengan nafas yang masih terengah – engah...

“Haha kau pikir dengan mengalahkanku lalu semuanya beres? Tidak, semua akan berjalan sesuai dengan rencana dan kau tak bisa menemukan Simbol terpenting itu!”
“Lalu kau pikir dengan kau berbicara seperti itu aku akan memaksamu untuk mengatakan dimana simbol yang tersisa? Kau salah kawan dan sebaiknya kau harus merasakan yang ini!”

Bak! Buk! Bak! Adit benar – benar kesal dengan perbuatan Singgih itu hingga beberapa bogem mentahnya berhasil membuat memar wajah Singgih itu dan ia jatuh pingsan. Setelah mengikat lengan dan kaki Singgih itu yang terkulai lemas hilang kesadaran, lalu ia menyobek kain yang berada disitu dan mengikatkannya pada luka di lengan Singgih itu agar darah yang keluar dapat berhenti. Bagaimanapun ia masih memiliki sifat kemanusiaannya. Segera ia mengambil minyak pada obor – obor penerangan itu dan menyipratkannya pada dinding yang bersimbol Satanis itu. Ia tahu ia tak dapat menghapusnya dengan mudah karena Simbol Satanis itu dibuat dengan tetesan darah yang mengering sehingga ia harus membakarnya dan Blap! Simbol Satanis itu terbakar secara sempurna.

***

Aaargh! Tiba – tiba mahluk Astral itu kesakitan memegangi kepalanya dan timbul suara Ana yang juga tengah kesakitan lalu berganti lagi dengan suara Mahluk itu yang juga tengah kesakitan.

“Ayo Ana jangan menyerah, keluarkan semua kemampuanmu dan usir Roh Jahat itu dari tubuhmu

Wush! Bruk! Seketika mahluk Astral itu keluar dari tubuh Ana dan Ana jatuh terkulai lemas. Mahluk itu masih bergulingan memegangi kepalanya dan terengah – engah dan Sony terus mengawasinya sembari tersenyum. Ia tahu Adit telah berhasil menyelesaikan beberapa tugasnya dan tinggal sedikit lagi. Semoga ia bisa menemukan Simbol terakhir itu, sahut Sony dalam hati.
“Bagaimana rasanya mahluk jelek?”
“Kau benar – benar bedebah busuk!” Sahut mahluk Astral itu sembari memegangi kepalanya karena kesakitan.
“Kau lihat, sahabatku lebih hebat dariku bukan, dan ini atas pertolongan Allah Sang Maha SegalaNYA!”
“Dasar anak ingusan banyak bicara, kalian semua akan kukirim ke neraka!” Sahut mahluk Astral itu mulai berbicara tenang setelah rasa sakit di kepalanya hilang.

Hiyaat! Trang! Trang! Mahluk Astral itu menggunakan kukunya yang memanjang dengan sendirinya untuk menyerang Sony yang masih dengan tongkat alumuniumnya berusaha menangkis serangan mahluk mengerikan itu. Akhirnya mahluk Astral itu harus menghadapi Sony dengan pertempuran jarak pendek karena kekuatannya berkurang drastis gara – gara simbol Satanis yang telah dihapus Adit. Biarpun kekuatannya berkurang drastis, tapi ia tak kalah tangguh dengan Sony. Kecepatan dan ketepatannya dalam serangannya itu cukup membuat Sony kewalahan dan terus bergerak mundur. Sony tak dapat menemukan celah dimana ia bisa menggunakan serangan baliknya, sepertinya mahluk itu benar – benar ahli dalam memanfaatkan kuku – kuku tajamnya yang memanjang.

Tap! Bruk! Segera Sony menjejakkan kakinya kebelakang mengarah pada dinding yang berada tepat dibelakangnya dan menjejakkan kedua kakinya kedepan dan setelah mengenai dada mahluk itu langsung ia bersalto kedepan menghindari serangan kuku tajam milik mahluk Astral itu. Mahluk Astral itu hanya terseret beberapa langkah kebelakang dan berbalik sembari menyunggingnkan senyum licik yang mengerikan.
“Kau benar – benar bodoh Anak Ingusan, kau pikir dengan serangan itu kau bisa melumpuhkanku? Ingat aku adalah Iblis dan aku tak memiliki jantung seperti kalian!”
“Memang kau tak memiliki jantung seperti kami, dan aku juga tak berniat menyerang untuk itu, aku hanya berusaha memotong kukumu yang sudah panjang. Kata Bu Guru waktu aku masih SD itu tidak sopan dan jorok karena kuman – kuman bisa masuk lewat kuku itu. Aku sedang mengajarimu hidup bersih kawan!”

Kreek! Plak! Tiba – tiba dua kuku yang memanjang itu patah dan jatuh kebawah. Sang Iblis memandangi Sony dengan penuh kebencian.
“Kau memang benar – benar manusia yang tak tahu diri, sekarang rasakan pembalasanku!” Segera mahluk Astral itu begerak cepat melawan Sony yang sudah dari tadi bersiap menghadapi serangan balasan.

Sring! Aaargh! Sony bergulingan sembari memegangi dadanya. Rupanya kuku yang memanjang itu berhasil merobek bagian depan Sony. Darah mulai menetes perlahan dari goresan kuku Mahluk Astral itu.

“Hahaha bagaimana rasanya ketajaman kukuku ini?”
“Cuih, sekalipun kau merobek jantungku, tak akan kubiarkan kau berkeliaran di dunia ini menyebarkan kejahatanmu!”

Trang! Sring! Trang! Perkelahian sengit dimulai lagi, tak ada yang mau saling mengalah dan tak ada yang mau berhenti. Semua serangan keduanya begitu cepat bagaikan terpaan cahaya rembulan yang terus menerangi perkelahian sengit itu.

***

Sementara itu, Adit terus bergerak mencari Simbol Satanis yang tersisa. Semua ruangan sudah ia jelajahi, tapi ia masih belum menemukan Simbol Satanis yang tersisa itu.

“Ya Allah, bagaimana ini? Hamba masih belum menyelesaikan tugas yang masih tersisa ini, berikan hamba petunjukMu ya Allah Yang Maha Segalanya” Sahut Adit sembari berdoa dalam hati. Ia mulai memejamkan mata dan terus berdoa, dan ketika selesai berdoa ia kembali mengedarkan pandangannya kearah sekitar di ruangan tersebut. Tampak beberapa lukisan terpampang disana dan Adit mulai berjalan perlahan memperhatikan lukisan – lukisan tersebut. Tampak sebuah lukisan Bunda Maria dan Adit semakin mendekati lukisan tersebut. Tampak pada lukisan tersebut mata Sang Bunda Maria terlihat sedih.
“Persembunyian terbaik adalah bersembunyi dekat dengan musuhmu!” Gumam Adit.

Segera Adit mengangkat Lukisan tersebut dan membaliknya. Benar saja, sebuah Simbol Satanis telah tercetak disana.
“Bismillahirohmannirrohim....!”

Adit segera menghapus dengan tangannya dan ...

Aaargh! Rasanya panas sekali, tangan Adit seperti tersedot pada Simbol Satanis itu yang terasa semakin panas. Tapi Adit sudah memiliki tekad penuh untuk menghapus Simbol tersebut. Adit terus menempelkan tangannya pada Simbol tersebut yang terus berusaha menariknya dan memberikan rasa panas pada seluruh tangan Adit. Tidak hanya ditangan Adit, bahkan menjalar sampai keseluruh tubuh. Adit mulai teringat pengalamannya ketika dahulu pernah melawan Raja Iblis bersama Sony dan Sony selalu mengingatkan agar selalu memasrahkan diri kepada Allah. Panas yang dirasakan Adit perlahan hilang dan Simbol Satanis itu perlahan hilang dengan sendirinya.

“Alhamdulillah terimakasih ya Allah!” gumam Adit sembari mengembalikan lukisan itu ketempat semula.
Adit mulai menghapus keringat yang menempel di dahinya dan berbalik untuk menemui sahabatnya itu yang tengah bertarung hebat melawan mahluk Astral itu. Tampak lukisan Bunda Maria itu menyunggingkan senyuman kearah Adit yang mulai menjauh dari tempat itu.

***

Trang! Trang! Pertempuran kedua mahluk berbeda dunia itu masih saja berlanjut. Hap! Tap! Cap! Trang! Sring! Aaargh! Dengan cepat Sony melompat dan bersalto kebelakang sembari kedua jari kanannya mengeras dengan kuat dan menghujamkan jarinya kearah mata mahluk Astral itu dan berhasil. Sedangkan mahluk Astral itu berhasil juga menancapkan kukunya kearah lengan Sony dan mereka bergulingan menjauh dari pertarungan itu. Keduanya saling mengerang kesakitan sembari memegangi lukanya masing – masing.

Aaargh! Tiba – tiba mahluk Astral itu berteriak semakin keras sembari memegangi kepalanya dan sekucur tubuhnya mulai terbakar.

“Sepertinya sahabatku berhasil menunaikan tugasnya dengan baik!” Sahut Sony sembari tersengal – sengal menahan letih dan rasa sakitnya.
“Dasar kalian bedebah busuk menyebalkan!”
“Selamat kembali ketempatmu yang sebenarnya dan salam untuk saudaramu Raja Iblis itu!”
“Tidak, kau juga harus ikut bersamaku keneraka, Hiyaaat!”

Tampak mahluk Astral itu berlari cepat dengan kondisi tubuh yang mulai terbakar kearah Sony yang sedang kepayahan dan ....

Blar! Blar! Blar!

Belum sampai mengenai Sony, tubuh mahluk Astral itu hancur lebur tak bersisa dan hanya meninggalkan debu – debu yang berterbangan kesana kemari.
Adit yang baru saja sampai ditempat itu dan melihat kejadian itu langsung menghampiri Sony dan memapahnya serta berusaha menghentikan pendarahan hebat yang dialami Sony dengan peralatan seadanya.

“Sudah, sudah Dit, sepertinya aku sudah tak apa, tolong kau papah Ana saja kekamarnya. Sepertinya ia juga butuh bantuan!” Sahut Sony yang terlihat mulai membaik.
Segera Adit mengangkat tubuh Ana yang sudah pingsan cukup lama.

***

Kukuruyuuk! Suara Ayam kembali memecah tragedi yang mengerikan semalam dan mentari mulai menyembulkan cahayanya di ufuk timur. Adit dan Sony tengah terduduk sembari memandangi wajah Ana yang masih belum sadar.

“Gila, cantik sekali si gadis ini Son, sayang hidupnya sangat tragis!”
“Iya Dit, hey hey apa yang kamu mau lakukan!”
“Ini aku mau menciumnya seperti cerita dongeng putri – putri dimana sang Pangeran yang menciumnya dan membangunkannya, membebaskannya dari kutukan sang Penyihir jahat!”
“Eh gombal, jangan ngarep deh, ini kan cerita misteri, bukan dongeng putri macam begituan, ntar si Ardynal si pengarang cerita ini ngambek loh trus gak mau meneruskan cerita kita gimana hayo?”
“Oh ah eh hehe maaf deh, maaf ya mas Ardynal, gak ada maksud loh!”
Ana mulai menggeliat dan berusaha membuka matanya dengan perlahan. Tampak dihadapannya dua orang lelaki penyelamat hidupnya dan Ana menyunggingkan senyuman tanda terimakasihnya kepada kedua lelaki itu.

“Sudah Ana, jangan dipaksakan bangun. Biar kau istirahat saja dulu di tempat tidurmu ini, ini sudah kubuatkan bubur hangat untukmu untuk menambah tenagamu!”
“te – terimakasih, maaf merepotkan kalian” sahut Ana lemah.
“Oh tak apa Ana, ini sudah tugas dan kewajiban kita sesama manusia untuk saling menolong!” Sahut Adit sok berwibawa dan Sony hanya tersenyum saja melihat tingkah Adit yang mulai mencari perhatian Ana.
“Sebenarnya apa yang terjadi, aku benar – benar tidak mengerti mereka bisa sampai membunuh semua keluargaku dengan sadis tanpa meninggalkan jejak sama sekali!” Tampak Ana mulai membuka pembicaraan setelah beberapa suap bubur telah masuk kemulut menembus ke perutnya dengan disuapi Adit yang penuh kesabaran menyuapi Ana yang masih lemah.
“Semua itu berasal dari beberapa tahun yang lalu sebelum kau lahir Ana. Dahulu pulau ini dihuni oleh suku – suku yang tanpa mereka sadari telah memuja Iblis termasuk kakek moyangmu, hingga waktu berganti dan sebuah agama masuk kesini, sebuah agama yang mengajarkan tentang kebaikan. Kakek buyutmulah yang pertama kali menganut Nasrani dan menyebarkannya di pulau ini . Kakek buyutmulah yang mengajarkan tentang kebaikan, saling tolong menolong, menghapus perbudakan dan selalu menghormati antar sesama manusia. Ia menghilangkan tradisi yang mengerikan itu dan menggantinya dengan kebaikan – kebaikan yang ia ciptakan. Tapi masih saja ada orang yang tidak suka dengan beliau, ia menghidupkan kembali Iblis yang sudah tertidur lama hingga ia muncul lagi dan memporak – porandakan keluargamu. Satu persatu keluargamu dihabisi dengan cara yang sadis, mereka dirasuki roh jahat dan seolah – olah bunuh diri. Setiap kematian dari keluargamu itu semakin kuatlah Iblis itu hingga kau keturunan terakhir dari Kakek Buyutmu dan jika semalam itu kau mati, maka Iblis itu akan kembali menguasai pulau ini dan menyengsearakan semua penghuni pulau ini.”
“Ah rasanya sulit dipercaya, semua keluargaku adalah seorang Kristen yang taat, bagaimana bisa dirasuki Roh Jahat seperti itu?”
“Kalau itu aku tak mengerti Ana, ini tidak seperti film – film horor lainnya dimana para Iblis itu takut dengan Salib yang ditunjukkan kepada mereka, pecahan tasbih yang dilemparkan dan dapat menghanguskan mereka atau doa – doa tertentu yang dapat mengusir mereka dengan pasti. Ada hal lain yang lebih dari itu, yaitu keyakinan dan keimanan kita. Bukannya aku berbicara tentang Pluralisme atau sejenisnya, tapi ini adalah hal yang jauh dari sekedar itu. Seorang muslim atau seorang Kristen yang taatpun bisa kerasukan Roh Jahat karena kurangnya Iman dan keyakinan pada diri mereka sendiri. Mulut bisa berbicara panjang lebar mengenai Ketuhanan, mengenai Allah dan sebutan yang menjelaskan tentang itu, tapi ketika kita sedang dalam bahaya, atau kita sedang sakit parah atau kita sedang mengalami kebangkrutan, musibah hebat, lalu apakah kita masih mempercayaiNYA? Itulah yang disebut dengan keimanan dan keyakinan Ana...”. Ana terus mencerna kata – kata Sony dengan serius.
“Sudah – sudah Ana jangan dipikirkan terlalu serius, biasa itu Sony otaknya rada aneh kalau sudah berbicara begituan. Son, udah ah ganti pembicaraan yang ringan – ringan aja gitu, kasihan kan Ana jadi kepikiran keluarganya lagi tuh!” Sahut Adit sewot.
“Oh ah eh hehehe maaf ya aku kalau berbicara memang rada ngelantur, ya sudah kita main tebak – tebakan aja gimana?”
“Eh bocah, Ana itu bukan anak kecil lagi tau, gak usah main tebak – tebakan gitu ah!” “Ya udah aku harus bicara apa lagi dong, sudahlah main tembak – tembakan saja kalau begitu!” Sahut Sony kesal karena disalahkan terus dan Ana tersenyum geli melihat tingkah kedua lelaki itu.

***

Ana tersenyum puas ketika melihat sekumpulan anak – anak bermain riang di pelataran Puri milik keluarganya. Kini ia telah merubah kondisi Puri itu yang tadinya sangat menyeramkan menjadi sangat menyenangkan. Ia buat taman dengan berbagai macam permainan didalamnya. Ia telah memberikan sebagian tempat untuk mengumpulkan anak Yatim Piatu dan merawatnya bersama semua masyarakat di tempat itu. Kini para pekerja di perkebunan keluarga Ana bisa bernafas lega dan bekerja penuh semangat, sementara para istri dan anak – anak bisa bergabung di Puri tersebut sembari menyiapkan makanan dan ikut membantu mengurusi anak – anak Yatim itu. Disebelah ruangan tersebut juga terdapat klinik kesehatan dimana terdapat para ahli medis membuka praktek pengobatan disana sehingga kesehatan masyarakat di tempat itu dapat terjaga dengan baik. Para Pendeta dan Biarawati juga tengah sibuk melakukan kegiatan di tempat tersebut, mendoakan kesembuhan bagi yang sedang mengalami sakit, membantu mengurusi anak – anak Yatim dan lain sebagainya.

“Ini saatnya petualangan baru....!” Gumam Ana sembari tersenyum.

Byur! Byur! Ombak lautan memecah kesunyian di tepi pantai itu. Adit dan Sony tengah bersiap menaiki sebuah perahu kecil yang akan mengantarkannya kepada perjalanan selanjutnya.

“Kamu kenapa si Son, terburu – buru sekali kita berangkat, kamu tidak suka ya aku bersama Ana?”
“Bukan seperti itu Dit, seperti apa yang kita rencanakan, masih banyak lagi orang di luar sana yang membutuhkan bantuan kita dan itulah tugas kita sebenarnya!”
“Ya boleh kuterima deh alasanmu itu. Oh ya aku dapat ide bagus ni Son, bagaimana kalau kita namakan Tim kita ini adalah Duo Pembasmi Hantu!” Ungkap Adit bersemangat.
“Sepertinya ide itu sangat konyol Dit, kenapa Duo, kita kan bertiga!” Sahut Ana yang tiba – tiba muncul dengan sepatu Boot dan Jeans kesayangannya, Adit dan Sony mengarahkan pandangannya ke Ana dengan sangat terkejut.
“Jadi, maksudmu?” Sahut Adit dan Sony serempak.
“Iya, aku ingin bergabung dan ingin belajar apa itu Keyakinan dan Keimanan sejati!”
“Aaaah iya, iya dengan senang hati, ayo kita jalani petualangan baru kita!” Sahut Adit penuh semangat dan perahu itu bergerak perlahan menembus ombak lautan yang tersenyum bangga melihat semangat ketiga anak muda tersebut.


TAMAT

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Puri Berhantu Part 1

Misteri Golok Emas Bertuah Part 3