Damayanti Versus Setan

Hallo teman - teman pembaca cerita misteri, kali ini saya Ardynal, terinspirasi ingin membuat cerita misteri hasil kreatifitas saya sendiri. Sebelumnya mohon maaf karena pelulisannya tidak sesuai dengan EYD, seperti pada bagian pembicaraan saya tidak selipkan tanda kutip dan lain sebagainya, itu dikarenakan agar teman - teman difable khususnya Tunanetra bisa membaca dengan screen reader nya tanpa harus mengalami gangguan pada pembacaan tanda kutip tersebut. Ya karena saya juga dseorang Difable netra. Bagi yang ingin berkenalan atau ingin mendapatkan e-book cerita hasil tulisan dari saya bisa kirim email ke ardinal.purbowo@gmail.com yaa. Baiklah selamat membaca.
Sony adalah seorang tunanetra yang aktif. Setiap harinya ia selalu menggunakan laptopnya untuk pekerjaannya.Bagi yang belum mengetahui bagaimana cara seorang tunanetra menggunakan laptop adalah dengan menggunakan screen reader atau program pembaca layar. Untuk kalangan difable pasti sudah sangat familiar dengan nama Damayanti. Ya karena setiap tombol yang ditekan oleh kita maka suara Damayanti akan mengejanya satu per satu. Awalnya memang terlihat unik, lama kelamaan hal tersebut sudah sangat biasa bagi kita.
Sony yang adalah seorang script writer atau seorang penulis pada salah satu Radio, selalu membuat naskah sandiwara untuk salah satu program pada Radio tersebut. Sonypun banyak melakukan cara agar ia terinspirasi untuk membuat setiap ceritanya dan ia biasanya lakukan pada waktu malam hari. Menjelang tengah malam ia malah sibuk mengetik pada Laptopnya dan biasanya ia lakukan terus menerus hingga menjelang Shubuh. Setiap naskah yang ia buat selalu dapat memuaskan sang Boss dan ia selalu dipercaya untuk program yang satu itu walaupun bayarannya kurang memuaskan.
Marni adalah tetangga Sony yang sudah lama diam - diam mencintai Sony tapi ternyata bertepuk sebelah tangan. Sony seperti kurang tanggap pada keadaan sekitar dan terkesan autis. Padahal tidak, justru ia sangat menyukai pekerjaannya itu hingga terlalu asyik dalam menulis. Seperti biasa Marni menelepon Sony pada tengah malam sebelum Sony membuka Laptopnya. Ya ia ingin memberikan makanan kecil untuk menemani Sony bekerja. Marni kerap kali membawakan makanan kecil untuk Sony walaupun ia harus pergi tengah malam untuk hanya sekedar mengetuk pintu rumah Sony dan memberikan makanan kecilnya. Tapi malam ini Marni tampak berbeda, ia begitu lembut dan menggunakan parfum wanginya dan menatap sayu ke arah Sony. Sonypun hanya mengucapkan terimakasih dengan nada datar saja dan segera menutup pintunya lagi.
Beberapa hari kemudian ketika Sony akan membuka Laptopnya, tiba - tiba bulu kuduknya berdiri dan ia menjadi merasa aneh. Tiba - tiba bau parfum Marni menebar dalam kamar Sony. Sonypun terheran - heran saja karena Sonytak pernah membukakan pintu untuk Marni dan sekarang bau parfum itu seolah - olah ia berada di kamar Sony. Ah, itu hanya perasaan aku saja
Jawab Sony dalam hati dan ia bangun dari tempat tidurnya dan menyalakan Laptop kesayangannya itu. Setelah bebeberapa detik menunggu si screen reader itu menyala ternyata tetap tak kunjung menyala juga. Aneh, pikir Sony. Biasanya tak butuh waktu lama si Damayanti akan berceloteh dan Sony mulai mencoba menekan pada salah satu tombol di keyboardnya dan si Damayanti tetap tidak mau berkata apapun.
Ini pasti Laptop sedang error
Batin si Sony dan iapun menggunakan screen reader lain dan berusaha menginstall kembali si Damayanti di laptopnya tapi tidak berhasil.
Ya sudahlah, mungkin Laptop ini butuh di reparasi
Batin Sony dan iapun hendak mematikan Laptopnya secara paksa dan kembali ke tempat tidurnya.
Sony, Sony .... Sony
Sonypun terhenyak dan mencari suara itu. Tanpa sadar laptop tersebut membuka sendiri dan menyala sendiri. Sony tahu itu dari suara kipas Laptop yang bergerak sendiri yang menandakan bahwa Laptop itu menyala.
Sony, Apa kau masih ingat aku?
Marni? Kamu ada dimana? Aku disini Sony....
Sony terkejut bukan main ternyata suara itu berasal dari Laptopnya sendiri. Bagaimana tidak terkejut bagaimana ada suara Marni di Laptopnya?
Sony, Sony apa kau mencintaiku Sony?
A..apa yang kau lakukan di situ?
Tubuh Sony mulai gemetar. Ia masih bingung bagaimana Marni menyapanya di dalam Laptopnya?
Tanpa sadar Sony bergerak mendekat Laptopnya dan duduk berhadapan dengan Laptopnya. Tubuhnya mulai gemetar dan keringat mulai muncul di sekucur tubuhnya. Sony,
Sony ... Apa kau mencintaiku Sony?
Tidaaaak! ini pasti mimpi. Ya Allah bangunkan aku dari mimpi buruk ini!
teriak Sony sembari memukul - mukulkan kepalanya dengan tangannya sendiri berharap ia terbangun dari mimpi buruknya.
Tidak Sony, kau masih belum menjawab pertanyaanku... Ayo ikutlah bersamaku Sony, kita arungi hidup bersama disini... Tiba -
tiba sebuah lengan manusia dengan berlumuran darah muncul dari monitor Laptop dan mencekik leher Sony yang masih gemetaran.
Aaargh, To tooloooong Aaaergh
Sony tampak mulai panik dan kesulitan bernafas karena tangan itu begitu sangat kuatnya mencengkeram leher Sony yang sedari tadi berusaha meronta - ronta sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman tangan yang berlumuran darah tersebut. Tiba -
tiba Barak! tangan dingin itu mencampakkan Sony yang tengah kehabisan udara dan Sony terpelanting jatuh menabrak pintu kamar yang tertutup. Sony berusaha mengambil nafas sekuat - kuatnya dan berusaha bangkit dari lantai kamar. Tes,
tes, tes....
Tiba - Tiba kepala Sony seperti kejatuhan tetesan air. Sony segera meraba kepalanya yang tertetes air itu dan menciumnya. Bau amis menyengat hidung Sony dan tetesan air itu makin deras memenuhi seisi kamar Sony. Tetesan itu berupa tetesan darah dan sayup - sayup terdengar suara Marni menangis tersedu - sedu dan berucap ...
Sony, sony apa kau mencintaiku?
Sony segera berbalik arah dan hendak berlari menuju pintu kamarnya tapi Buk! Sebuah tangan yang berlumuran darah tadi mencengkeram salah satu pergelangan kaki Sony dan ia terjatuh lagi. Wajah Sony berlumuran darah. Bukan darah karena ia terjatuh, akan tetapi darah dari tetesan yang ada di kamar tadi.
Tiba - tiba sebuah tangan mencengkeram leher Sony dan ia kembali kesulitan bernafas.
Too tooloooong aaargh
Sayup - sayup Sony mendengar suara yang tidak asing didengarnya. Ya itu suara Damayanti yang tanpa diperintah sedikitpun berkata dengan lembut.
Tidak Marni. Kau salah jika ingin membunuh Sony. Dia temanku dan tidak sepantasnyalah kau memaksakan agar ia mencintaimu. Biarlah waktu dan takdir yang akan menjawabnya...
Marni terdiam dam mengarahkan pandangannya ke arah monitor Laptop dan tampak Damayanti memandanginya dengan lembut. Cengkeraman tangannya melemah dan Sony terjatuh pingsan.
Suara Adzan Shubuh membangunkan Sony yang ternyata sejak semalam terbaring di lantai kamarnya. Seluruh badannya terasa pegal dan ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Astaghfirullah, Marni?
Ia mulai bisa mengingat apa yang tengah terjadi sebelumnya dan ia meraba wajahnya yang sebelumnya telah berlumuran darah dan tampak tidak ada darah sedikitpun. Hanya beberapa luka lebam dan kepalanya menerawang jauh.
Benar, sudah beberapa hari ini ia tidak mendengar Marni menelponnya atau bertandang ke rumahnya.Ya apa yang telah terjadi? Segera Sony bangkit dari lantai kamarnya dan mengambil air wudlu.
Keesokan harinya tampak Sony duduk bersimpuh pada salah satu pusara pada Pemakaman dekat rumahnya. Ia tertunduk khusyuk berdoa. Ternyata Marni telah tiada, malam terakhir ketika ia memberikan makanan kecil untuk Sony ternyata sepulang dari tempat Sony ia di hadang oleh para pemuda yang tengah mabuk dan memperkosanya. Tidak hanya itu, setelah digilir oleh 4 orang pemuda, ia kemudian dibunuh dan ditinggalkan begitu saja di kuburan yang tampak tak berpenghuni pada waktu malam itu.
Maafkan aku Marni, seharusnya aku tidak membiarkanmu datang ketempatku sendirian malam - malam. Aku tahu kau sangat mencintaiku dan aku juga demikian. Hanya saja aku ingin memberikan yang terbaik untukmu Marni. Aku sedang bekerja keras untuk memberikan Mas kawin yang sangat indah untukmu hingga aku melupakan kehadiranmu. Tampak Sony mengeruk tanah yang berada di pusara Marni dan meletakkan sebuah kalung emas seberat 15 gram yang tadinya ia rencanakan sebagai mas kawin sewaktu ia menikah dengan Marni. Lalu ia menguburnya perlahan sembari tetesan air matanya berlinang membasahi wajahnya.
Maafkan aku Marni, sejak awal aku memang mencintaimu tapi setiap kali bertemu denganmu entah kenapa lidah ini kaku tak bisa berkata apapun. Aku bukan pria yang baik Marni, mengatakan i love you saja aku tak bisa. Maafkan aku ya semoga kau bahagia disana .
Hujan mulai menyirami tubuh Sony seakan ikut menangis bersama menyaksikan keharuan yang sangat pilu itu. Sonypun melangkahkan kaki bersama tongkatnya menjauh dari tempat istirahat Marni yang terakhir kalinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri Puri Berhantu Part 1

Misteri Golok Emas Bertuah Part 3